pulang

Hari ini kembali saya mendapat informasi tentang seseorang yang belum sempat saya kenal, masih muda mungkin, yang sudah meninggalkan dunia yang fana ini.
Seorang yang tidak saya kenal namun terasa begitu dekat, grup bb al ilmu menginforrmasikan hal ini tadi pagi, dan tiba tiba saja secara diam diam merasuk rasa kehilangan itu..
Sama seperti beberapa minggu yang lalu saya diinformasikan sahabat bahwa seseorang yang juga tidak saya kenal dekat telah meninggal. Beliau aktif di masjid yang biasa digunakan untuk kajian. Qadarulloh hari itu hari jum’at, sholat jenazah dilangsungkan setelah sholat jum’at sehingga saya berkesempatan untuk mengikutinya.. Rasa kehilangan yang amat sangat menghujam kalbu saat sholat jenazah dilangsungkan.
Tersirat pemikiran setelah sholat selesai dilangsungkan. Dimanakah kelak saya akan menemui sang penjemput, yang entah dimana mereka berada sekarang, berapa lama waktu yang masih saya miliki, dan yang lebih menakutkan lagi… apakah nanti saat tiba waktunya keadaan saya tidak lebih buruk dari saat ini…

Berikut kutipan yang saya terima dari grup bb al ilmu hari ini, sebuah teks dari jeda radiorodja yang menjadi favorit saya

“BAIT-BAIT KEMATIAN”
From : Catatan Pena al akh Adi Abu Albani – رحمه اللّه – pada Jeda Rodja “Al Maut”

“Siapa diantara kita yang tidak akan ditimpa oleh kematian
Ia tidak memiliki teman
Jika ia datang, maka berakhirlah segala sesuatu

Ia tidak memiliki tempat, seluruh alam ini adalah tempatnya
Kita tidak akan bisa berlari ataupun bersembunyi darinya
Walaupun kita berada dalam benteng yang sangat kokoh

Ia tidak memilki waktu
Ia terus bekerja sepanjang hari, sepanjang masa
Ia tidak menunggu seorang pun akan tetapi kita semua yang menunggunya

Ia adalah penghancur angan, penghancur keinginan, penghancur impian
Ia adalah akhir fase pertama manusia
Ia adalah kematian

Hiduplah sesuka hatimu
Tumpahkan dan hamburkan kesenangan demi kesenangan untuk memuaskan nafsumu
Katakan semaumu tentang islam, orang-orang sholeh, ketaatan dan kebaikan
Bergembiralah dan tertawalah sepuas puasmu kepada dunia

Kelak pada akhirnya engkau juga akan meregang di tengah sakaratul maut
Dan entah kapan, itu pasti akan menimpamu
Lalu engkau mati”

…dan entah kapan, itu pasti akan menimpa saya
lalu saya mati..

negosiasi

Akhirnya seluruh tahapan yang ditetapkan berhasil saya lewati. Mulai dari cv yang dikirimkan seorang rekan, pengisian formulir, interview user, psikotest, hingga BoD panel.
Tak mudah untuk menghadiri seluruh tahapan yang diminta. Kesibukan rutin serta tenggat waktu yang selalu menuntut untuk dipenuhi menyebabkan beberapa sesi terpaksa dijadwalkan kembali. Alhamdulillah mereka bisa memahami.
Hingga tibalah saat informasi itu disampaikan, ucapan selamat diberikan, penawaranpun diajukan.
Ternyata…
Mereka hanya menyetujui 2 dari 4 klausul yang saya ajukan.
Hmm..
Mungkin hasil test yang kurang memadai, ataupun memang pemintaan yang diajukan terlalu muluk untuk kompetensi yang saya miliki hingga mereka tidak menyetujuinya..
Entahlah..
Tampaknya proses negosiasi berakhir sudah..

perahu

Terkadang seseorang tidak mengetahui mengapa ia berada di suatu perahu, sebatas menjalankan dan memberikan yang terbaik, maka hal itu cukup baginya. Rutinitas terus dijalankan, mengikuti permintaan nahkoda. Perahu terus berlayar..
Hingga tiba saat awak perahu mulai berinteraksi dengan awak perahu lain, dan mulai membandingkan kompetensi yang berhasil dikembangkan selama ia bertugas di perahu tersebut. Ia mulai menyadari jika kompetensi yang dimilikinya mulai tertinggal dibandingkan rekan rekan sejawatnya. Kondisi ini mulai membuatnya gelisah, ia yakin jika ia masih sanggup bersaing untuk mengejar ketinggalan tersebut, ia pun menyadari jika pengembangan kompetensi membutuhkan perahu yang sesuai. Perahu yang selalu melintasi perairan yang tenang akan membuat awaknya terlena, terhanyut dalam hembusan angin sepoi sepoi, sebaliknya perahu yang selalu melintasi perairan berbahaya akan selalu membuat awaknya sigap, siap sedia menyongsong badai yang tak henti menerjang.
Namun bagi para awak yang tak terbiasa untuk pindah perahu, keputusan untuk berpaling ke lain perahu merupakan keputusan yang sulit. Terlalu banyak pertanyaan ‘bagaimana jika..’ yang sontak muncul saat bayangan perahu lain melintas. Bagaimana jika perahu yang baru ternyata tidak lebih baik dibanding yang lama, bagaimana jika ternyata rute yang ditempuh tidak sesuai bayangannya, bagaimana jika perahu yang baru kandas di pelayaran berikutnya…
Namun terlalu lama berada dalam kebimbangan sangatlah berbahaya, perahu terus berlayar, kesempatan tak datang dua kali. Buat keputusan tentukan pilihan, selalu ada resiko untuk setiap keputusan yang dipilih. Berikan yang terbaik dan nikmati prosesnya..
Tidak ada yang pernah tau apa yang menanti di pelayaran berikutnya, baik itu di perahu lama ataupun di perahu baru. Tindakan nyata yang dibutuhkan kini, bukan sebatas berpikir, menimbang dan menunggu waktu yang tepat.
Majulah majulah menang!

persimpangan

..datang kabar membuat gundah, tiada kabar membuat resah..

Persimpangan itupun akan semakin mendekat
Hampir tak kan bisa dielakkan lagi
Saat memilih akan tiba
Keberanian untuk meninggalkan zona nyaman ini ataukah ketakutan menempuh jalan terjal berliku
Selamanya duduk menanti atau berlari menjemput peluang
Entahlah..

Dalam kebimbangan yang semakin memuncak ini, alhamdulillah saya mendapatkan inspirasi dari blog http://www.abuafra.blogspot.com dan dengan seizin beliau akan saya bagi beberapa paragraf tersebut disini (*terimakasih yaa akhi atas izinnya, barakallohu fiik):

Orang bijak dan bermoral tidak mengenal kata lelah.

Tinggalkan tanah kelahiran dan lakukanlah pengembaraan.

Lakukanlah safar, kau akan dapatkan pengganti dari segala yang kau tinggal.

Berlelah lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Air menjadi rusak karena diam tertahan, jika mengalir menjadi jernih dan jika tidak kan keruh menggenang.

Singa jika tidak tinggalkan sarang tak kan dapat mangsa.

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran.

Jika matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.

Tongkat gaharu, semula hanyalah kayu bakar biasa jika di dalam hutan.

Sumber >> http://abuafra.blogspot.com/2012/04/perjalanan-baru-dimulai.html?m=1

Ia terus melaju menggapai mimpinya dengan teguh. Ia tidak mengalihkan jalan karena celaan para pencela. Ia tenang, berpikir dalam dalam dan tidak goyah dengan kelezatan pujian.  Ia menjalankan segala jalan yang membantu impian, halangan tidak menjadikannya menyingkir.

Slogannya adalah sabar, kelezatannya adalah keletihan itu sendiri. Ia disiplin atas waktunya. Tidak berinteraksi kepada manusia selain dengan sangat hati hati. Ia rakus untuk meraih suatu hal yang istimewa, tidak melakukan hal yang sia sia.

Sumber >> http://abuafra.blogspot.com/2012/04/alhamdulillah-untuk-sementara-ini-saya.html?m=1

Biarkan aku menggapai ketinggian yang belum pernah teraih. Sebab kesulitan karya tinggi memang sulit, dan karya mudah memang amat mudah. Padahal untuk mencari madu harus menghadapi tusukan lebah.

Sumber >> http://abuafra.blogspot.com/2012/04/sabar-tuk-peroleh-cita.html?m=1

kenapa pengen pindah..

Gak tau juga kenapa saya pengen pindah
Sejak dulu sudah ada keinginan untuk merasakan bekerja di perusahaan besar
Pengen tau aja sistemnya seperti apa
Pengen juga ngerasain gimana susahnya kerja di swasta
Pengen ngerasain ngembangin diri di lingkungan yang jauh lebih luas
Pengen kerja di perusahaan yang bener bener besar

Apakah sesederhana itu?
Apakah keinginan sederhana itu gak boleh membuat saya ingin pindah?

Pengen punya cv bagus
Mentereng
Pencapaian yang aduhai

Cuma itu..

Sebab lainnya adalah lokasi kerja di tempat sekarang selalu membuat nyonya tidak nyaman
Kasihan melihatnya selalu gelisah
Menunggu sabtu minggu untuk meninggalkan kota ini

Sepertinya hanya itu..

Gaji saat ini sudah cukup buat saya
Ditambah tunjangan dan terkadang insentif dadakan
Belum lagi bonus yang kadang meledak
Kendaraan dinas kinyis kinyis menambah kenyamanan kerja disini
Zona yang terlalu nyaman buat saya
Ada ketakutan 3 atau 5 tahun dari sekarang saya mengalami kemunduran skill dan akan semakin jauh tertinggal jika dibandingkan dengan rekan rekan yang bekerja di perusahaan mnc besar ataupun kap

Mungkin itu juga bisa jadi faktor tambahan

Namun apa yang saya rasakan saat ini
Dini hari
Di kereta menuju jogja yang entah kenapa tidak bergerak
Ada ketakutan tersendiri
Bagaimana seandainya wawancara yang tadi sore dilakukan ini berhasil
Ketakutan yang wajar mungkin
Ketakutan yang timbul saat adzan maghrib bergema, dan sesi itu terus berlanjut
Ketakutan tidak menemukan kebebasan beribadah seperti yang bisa dilakukan di perusahaan sekarang

Takut keterima
Sebuah ketakutan yang absurd
Ngapain juga kirim cv kalo ternyata takut keterima
Aneh

Saya tidak tahu bagaimana hasil dari 2 proses yang sungguh di luar dugaan ini
Hampir bersamaan
Seorang sahabat pernah berbagi, nikmati saja prosesnya
Upayakan yang terbaik
Dan lihat sejauh apa kita sanggup menerjang

Entahlah
Yang jelas satu yang saya rasakan saat ini
Takut keterima
Sungguh ke-ge’eran yang benar benar ge’er

#pindahperahu