naik turun

ekpektasi dan realitas

harapan dan kenyataaan

dua hal yang jika keduanya bertemu akan menimbulkan perasaan senang gembira dan damai, sebaliknya jika keduanya saling bertentangan atau berjauhan akan timbul rasa gundah

alhamdulillah saat ini kami sudah dipastikan bisa berangkat kembali, walalupun belum mencapai 10 tahun dari keberangkatan terakhir

daftar di tahun 2013 setelah mendapatkan fasilitas dari kantor, kami mendapat informasi jika antrian mencapai sangat panjang dan diestimasi baru bisa berangkat di tahun 2023

saat ada rezeki lebih, kami kembali mendaftar yang plus di tahun yang sama dengan harapan bisa berangkat lebih awal. alhamdulillah di tahun 2018 kami bisa berangkat

lama berselang, adanya pandemi dan rutinitas dunya membuat kami terlupa akan jadwal keberangkatan, hingga akhirnya nama kami masuk daftar cadangan untuk berangkat di tahun 2024. senangnya saat mendapat kabar tersebut, kami segera mengurus administrasi untuk bisa berangkat, namun kegembiraan tidak berlangsung lama, di daftar yang rilis kemudian nama kami hilang.

belum 10 tahun dari keberangkatan terakhir ternyata menjadi pengganjal kami untuk berangkat di tahun 2024. nama kami kembali muncul untuk keberangkatan 2025 dan seperti sebelumnya nama itu kembali hilang saat daftar nama keberangkatan jamaah diupdate

lagi lagi nama kami muncul di keberangkatan 2026, belajar dari yang sudah-sudah kami sudah tidak bereaksi, kami anggap nama tersebut akan kembali hilang

namun ternyata

kami mendapat surat dari bsi untuk melakukan pelunasan di 24 desember, kami buka surat tersebut di 28 desember. esoknya kami mendatangi depag untuk mengkonfirmasi, mereka bingung kenapa kami bisa dapet surat itu. mereka minta waktu untuk mengkonfirmasi ke pimpinan dan akan menghubungi kami kembali

sepekan berlalu tanpa kabar

kami kembali mendatangi depag dan dipertemukan dengan pimpinan. mereka menegaskan bahwa aturan bisa berangkat setelah melewati 10 tahun dari keberangkatan terakhir masih berlaku, namun mereka juga tidak memiliki jawaban kenapa nama kami bisa lolos dari sistem. mereka mempersilahkan kami untuk mengurus dan melunasi dengan catatan jika terjadi kegagalan keberangkatan maka itu sepenuhnya menjadi risiko kami

istitho’ah kami urus agar bisa melakukan pelunasan

namun saat mencoba melakukan pelunasan, sistem tidak terbuka

harapan yang sudah mulai timbul bertemu realitas pelunasan tidak bisa dilakukan. gundah gulana

hingga kami mendapat kabar jika tanggal 9 januari akan dibuka slot pelunasan, qodarulloh di hari itu saya terlupakan untuk melakukan transfer

ekspektasi tinggi bertemu dengan kenyataan saya lupa eksekusi. rasa sesal dan bete mendomisasi, kesempatan berangkat hilang hanya karena lupa

menata hati dan pasrah

melupakan harapan bisa berangkat di tahun 2026

berada di titik terendah

hingga kabar itu datang

dibuka kembali kuota tanggal 20 januari

tak mau kecolongan seperti sebelumnya, hari itu kami izin agar bisa ke bank sejak kesempatan pertama

dan akhirnya proses pelunasan bisa dilakukan, saat resi bank kami terima

tak terkira kegembiraan yang kami rasakan, alhamdulillah, bisa berangkat lebih awal

ekspektasi yang rendah bertemu kenyataan di level tertinggi, betapa senangnya, maasyaa Allah

Mengantar

Jum’at jelang jam 24, informasi itu menyebar. Salah seorang Ustadz pengisi kajian di masjid kami berpulang. Beliau mengalami sakit cukup lama, anggota tubuh bagian bawah sudah tidak bisa digerakkan.

Suasana setelah sholat jenazah

Jelang jum’atan jenazah tiba di masjid, hujan deras hingga akhir sholat jum’at. Hampir seluruh jamaah sholat jumat lanjut mengikuti sholat jenazah. Seorang berbisik mungkin ini adalah rekor sholat jenazah terbanyak di masjid itu.

Beliau orang baik. Mengajar tahsin di masjid kami. Gigih mengingatkan untuk menamatkan 1 juz tiap hari. Salah seorang yang saya kenal sangat akrab dengan Al Qur’an.

Haru sangat, terlintas jika jumat itu merupakan skenario terbaik untuk meninggalkan dunia. Disholatkan oleh jemaah sholat jumat satu masjid. Apalagi dengan pemahaman yang sama. Maasyaa Allah

Kapan kita dan bagaimana, semoga dalam kondisi yang baik juga

Camping

Dari tukang rebahan jadi anak camping. Bermula hanya nemenin orang rumah, akhirnya malah jadi tukang belanja perlengkapan. Seperti biasa gak kerasa udah setahun aja.

El mande

Berikut list yang sudah kami singgahi hingga saat ini:

Rekap Camping Bareng

  1. Bromelia (sept 24)
  2. ⁠cidahu (okt 24)
  3. ⁠bukit damar (nop 24)
  4. ⁠masada (mei 25)
  5. ⁠el mande (juli 25)

Soon insyaa Allah
6. taman pinus (okt 25)
7. ⁠nyampai (des 25)

Solo/mini camping bareng

  1. Desa pelangi sentul (des 24)
  2. ⁠Rainbow riverside (jan 25)
  3. Cozyland (jun 25)
  4. ⁠Didesa eco camp (agt 25)
  5. ⁠Panorama hills (sep 25)

Nyemplung juga

Tau tau maen juga. Siang siang, ntreng ntrengan. Dulu cuma bingung kok pada bisa panas panasan maen. Sekarang jadi pelaku

Akhirnya maen juga. Kegiatan yang dulu dianggap bukan olahraga. Sekarang ngusahain bisa

Semua berputar. Dulu menghindari. Sekarang ngajakin

Makalah

Makalah, proposal, paper, artikel, skripsi, thesis, disertasi dan semua kawan kawannya. Karya tulis yang tiga tahun ini semakin intens menenami. Mengantri, menunggu untuk diselesaikan.

Dimanapun kapanpun…

Enam semester berlalu. Masih ada revisi proposal, seminar hasil, sidang tertutup, dan sidang terbuka yang menanti. Masih ada juga dua artikel scopus yang belum tembus. Ditambah lagi makalah pjs yang harusnya sudah submit.

Satu yang paling penting adalah menulis sesuai dengan kebutuhan. Awal awal kuliah tulisan saya dikritisi karena terlalu to the point dan lugas. Perlahan gaya tulisan dirubah lebih lambat dan mendetail. Sayangnya gaya tersebut terbawa saat diminta menyelesaikan malalah sebagai prasyarat melewati PJS. Otomas kritisi dari sisi yang berlawanan diterima. Gak nyambung dan nano nano he he

No worry. You asking, i’m delivering insyaa Allah