Yang Tersisa

image

Dini hari berbaris rapih. Berkelok mengikuti alur jalan. Diam tak bergerak.
10 Agustus. Pukul 03.06. Jalan Jembayat, Mergasari Tegal.
Menuju ujung barat Jawa. Meninggalkan timur Jawa. Selalu ada cerita berbeda

Advertisements

Mudik

Kembali lagi mudik. Menempuh jarak hampir 1000 kilometer. Membelah pulau Jawa.
Dari ujung barat ke bagian timur. Menyusuri jalur pantai utara (pantura) hingga Semarang, kemudian turun ke jalur tengah melalui Salatiga, Ngawi, Mojokerto hingga sampai di kota (yang dahulu) dingin ini. Jalur ini merupakan jalur yang belakangan selalu dipilih ayah mertua saat beliau masih aktif.
Dua hari kami habiskan di perjalanan. Perjalanan hanya dilakukan pada siang hari. Menjelang malam kami akan beristirahat, untuk melanjutkan perjalanan keesokan hari. Biasanya kami sudah mencapai pekalongan saat malam tiba.
Perlengkapan navigasi mudik tahun ini terbilang lengkap. Terdapat global position satellite (GPS) keluaran Garmin, yang petanya sudah saya update dengan peta terkini dari navigasi[dot]net (terimakasih admin dan user yang selalu mengupdate petanya). Kami juga melengkapi diri dengan media sosial waze yang sangat membantu karena menampilan informasi di jalur yang akan kami lewati, mulai dari situasi darurat seperti hujan, kemacetan, atau kecelakaan, hingga perkiraan kecepatan kendaraan yang melalui ruas jalan tertentu secara real time, asiknya lagi fasilitas ini bisa saya nikmati tanpa biaya, cukup menginstal aplikasi waze di gadget. Informasi real time lain yang juga bermanfaat saya dapatkan dari twitter, dengan mengikuti akun @RadioElshinta @PantauMudik ataupun @TMCPoldaMetro.
Seperti biasanya, kemacetan selalu setia menemani. Tahun ini kami mengalaminya sepanjang jalur klari (sengaja kami keluar dari gerbang tol Klari/Karawang timur untuk menghindari dialihkan ke Sadang) hingga Ciasem. Sementara di hari kedua antara Kendal hingga Semarang.

Berlalu

Perlahan lahan meninggalkan. Tak banyak lagi tersisa. Berlalu tanpa jaminan kan bersua kembali.
25 hari dilewati. Aktifitas yang akan selalu dirindu. Memaksimalkan kesempatan tersisa.
Dunia yang akan selalu mengganggu. Sesaat yang mengorbankan selamanya. Buaian kenikmatan semu.

Jumpa Lagi

Kibasan pedang sang waktu kembali membawa saya bersua dengannya. Alhamdulillah. Nanti malam akan menjadi awal segalanya.
Tahun ini persiapan penyambutan tak seintensif dahulu. Kesibukan dunia merongrong waktu yang ada. Menghisap habis energi.
Tentunya waktu yang singkat ini haruslah dimanfaatkan semaksimal mungkin. Menciptakan momentum. Menjaga ritme. Sebulan yang singkat. Tidak ada jaminan saya bisa melewatinya hingga selesai, apalagi kembali berjumpa dengannya di tahun depan..

Anak Kost

Tinggal terpisah dari orang tua. Berbeda kota. Bertemu hanya sesekali.
Sendirian mengurus diri. Memenuhi kebutuhan. Memenuhi tuntutan.
Tak ada tempat mengadu. Hanya telpon pemuas kerinduan. Air mata senantiasa mengalir.
Pandangannya terkadang kosong. Menerawang jauh. Membandingkan dirinya dengan teman temannya.
Usianya masih terlalu muda. Usia yang sangat membutuhkan bunda dan ayah disisinya. 5 tahun usianya, anak kost termuda yang saya kenal.