Mudik 2016

Mudik tahun ini mengkin bakalan jadi salah satu yang akan selalu dikenang. Kami berangkat dari Cilegon pukul 05.30 hari Minggu dan tiba di Malang pukul 01.15 hari Selasa. Sungguh perjalanan nan panjang.

Kemacetan parah terjadi sejak memasuki tol Kanci Pejagan. Kami bahkan sempat dialihkan ke pintu tol Kanci. Antrian panjang terjadi di pintu tol tersebut. Namun kami memutuskan untuk kembali masuk gerbang tol Kanci sesaat setelah dikeluarkan.

Continue reading

Advertisements

Mudik

Kembali lagi mudik. Menempuh jarak hampir 1000 kilometer. Membelah pulau Jawa.
Dari ujung barat ke bagian timur. Menyusuri jalur pantai utara (pantura) hingga Semarang, kemudian turun ke jalur tengah melalui Salatiga, Ngawi, Mojokerto hingga sampai di kota (yang dahulu) dingin ini. Jalur ini merupakan jalur yang belakangan selalu dipilih ayah mertua saat beliau masih aktif.
Dua hari kami habiskan di perjalanan. Perjalanan hanya dilakukan pada siang hari. Menjelang malam kami akan beristirahat, untuk melanjutkan perjalanan keesokan hari. Biasanya kami sudah mencapai pekalongan saat malam tiba.
Perlengkapan navigasi mudik tahun ini terbilang lengkap. Terdapat global position satellite (GPS) keluaran Garmin, yang petanya sudah saya update dengan peta terkini dari navigasi[dot]net (terimakasih admin dan user yang selalu mengupdate petanya). Kami juga melengkapi diri dengan media sosial waze yang sangat membantu karena menampilan informasi di jalur yang akan kami lewati, mulai dari situasi darurat seperti hujan, kemacetan, atau kecelakaan, hingga perkiraan kecepatan kendaraan yang melalui ruas jalan tertentu secara real time, asiknya lagi fasilitas ini bisa saya nikmati tanpa biaya, cukup menginstal aplikasi waze di gadget. Informasi real time lain yang juga bermanfaat saya dapatkan dari twitter, dengan mengikuti akun @RadioElshinta @PantauMudik ataupun @TMCPoldaMetro.
Seperti biasanya, kemacetan selalu setia menemani. Tahun ini kami mengalaminya sepanjang jalur klari (sengaja kami keluar dari gerbang tol Klari/Karawang timur untuk menghindari dialihkan ke Sadang) hingga Ciasem. Sementara di hari kedua antara Kendal hingga Semarang.

GPS

The Global Positioning System (GPS) is a satellite-based navigation system made up of a network of 24 satellites placed into orbit by the U.S. Department of Defense. GPS was originally intended for military applications, but in the 1980s, the government made the system available for civilian use. GPS works in any weather conditions, anywhere in the world, 24 hours a day. There are no subscription fees or setup charges to use GPS | sumber http://www8.garmin.com/aboutGPS/&client=ms-rim&q=gps&sa=X&ei=kp0tUN–A5LDyQG5moDQBg&ved=0CCUQFjAB

Saya selalu membawa GPS dalam perjalanan mudik. Dua tahun yang lalu alat ini sukses memandu saya ke tempat tujuan. Tahun ini ceritanya berbeda.
Keinginan untuk menggunakan produk berlisensi dan original membuat saya membeli unit baru untuk menemani perjalanan mudik kali ini. Saya berharap dengan GPS yang memiliki fitur yang lebih lengkap dan peta yang paling update, perjalanan mudik menjadi semakin menyenangkan. Tidak perlu lagi berpikir rute mana yang akan dilewati, tinggal mengikuti petunjuk yang tampak dari layar 5”nya.
Perjalanan hari pertama berlangsung lancar, tanpa ada kendala berarti dari GPS. Sesekali GPS tidak menemukan rute yang kami lewati, namun saya masih menganggapnya wajar karena polisi menutup jalur utama mudik dan mengarahkan kami melewati jalur alternatif. Sedemikian alternatifnya jalur tersebut hingga kami sempat melintasi persawahan dan perumahan penduduk pedesaan.
Perjalanan hari kedua, hmm.. disinilah kisah ini dimulai, salah satu perjalanan yang akan selalu menjadi kenangan. Perjalanan yang mengingatkan betapa tidak berdayanya saya sebagai manusia. Perjalanan yang memaksa saya untuk selalu memeriksa rencana rute hingga ke detail. Perjalanan yang mengajarkan saya untuk tidak bolehnya ada sedikitpun perasaan sombong dan keyakinan berlebih terhadap alat ataupun rencana manusia.
Memasuki Semarang, GPS mengarahkan kami melewati kaliwungu, namun permintaan tersebut kami abaikan karena jalan tol telah terlihat. GPS kembali mengarahkan kami melewati jalur yang tidak dikenal saat berada di Jombang. Keluar dari jalan utama, melalui jalan sempit pedesaan, melintasi hutan dengan kemiringan lebih dari 45 derajat, jalur yang sungguh benar benar alternatif. Terlihat di monitor, jalan yang kami lewati bernama rute gerilya.
Melintasi tanjakan berkelok, dengan hutan cemara di kiri kanan jalan, jurang terjal disisi jalan.. Sungguh bukanlah rute ideal yang saya inginkan. 23 km yang benar – benar menguras emosi, tanpa sedikit pun lampu penerangan jalan. Hanya 3 mobil yang kami temui sepanjang rute tersebut. Perasaan senang karena hampir mencapai tujuan mendadak berubah menjadi perasaan cemas, waspada.. Terlambat belok sedikit saja, jurang nan terjal sudah menanti…
Alhamdulillah rute tersebut dapat kami lewati, sampai di tujuan dengan selamat, mundur hampir 2 jam dari waktu perkiraan semula.. Salah satu rute paling ekstrim yang pernah saya lewati. Esoknya saya mendapat informasi jika rute yang kami lewati adalah rute lintas alam.. Tak terbayang sekiranya terjadi sesuatu pada kendaraan kami pada malam itu di rute tersebut..
╮(“╯_╰)╭