2.000 rupiah

Feb 25, ’10 4:27 AM

Apalah artinya 2.000 rupiah bagi anda? Uang yang bahkan untuk membeli koran tempo-pun sudah tidak cukup lagi. Jangan harap merasakan kenikmatan mie ayam, bubur ayam ataupun nasi uduk dengan kepingan 2.000 rupiah. Bahkan untuk mendapatkan sebotol teh botol dingin pun masih memerlukan tambahan rupiah.
Namun tidak demikian halnya dengan kaum urban penikmat setia kereta ekonomi jakarta – bogor. 2.000 rupiah berarti tiket satu perjalanan. Perjalanan yang akan membawa anda menembus kemacetan jagorawi, tol dalam kota, ataupun jalur arteri cbd. Perjalanan yang juga menawarkan berbagai fasilitas yang bahkan tidak bisa dinikmati oleh mode angkutan lainnya. Tanpa perlu membayar uang member pusat kebugaran, di perjalanan ini anda bisa mendapatkan fasilitas mandi uap, baju bersih nan wangi saat menaiki kereta akan berubah kuyup saat mencapai tujuan. Jangan pertanyakan soal hiburan yang didapat selama perjalanan, live music akan selalu tersedia, dengan penyanyi yang berganti menunggu giliran pentas.
Fasilitas makan dan minum selalu tersedia, petugas akan membawa troli menawarkannya, tentunya untuk yang ini anda harus membayar tambahan biaya.
Fasilitas yang cukup mewah untuk 2.000 rupiah, menembus 60 km tanpa macet (kecuali menunggu disusul ekspress).

perjuangan di ka eko

Dec 23, ’09 8:51 PM

Loket stasiun cawang, jarum jam menunjukkan 19:00, sedikit bimbang berdiri di depan loket saat mengetahui kereta api ekonomi ac baru ada jam 20:30, pakuan ekspres sudah lewat sejak pukul 17:30. Pilihan satu-satunya hanyalah ka ekonomi yang katanya akan lewat sebentar lagi..
Menggendong tas overload, berisi perbekalan outbond selama 2 hari, celana gunung + kaos oblong gratisan dari eo menambah kesan kucel semakin nyata.
Tampang lusuh setelah menempuh perjalanan dari lembang semakin bertambah kusam saat mengetahui yang harus dihadapi adalah ka ekonomi. Perjalanan 1 jam nan melelahkan terbayang sudah..
Berharap masih bisa mendapatkan pakuan tanah abang di sudirman, ku melangkahkan kaki menuju peron sebrang, mencegat kereta arah jakarta..
Baru sampai di manggarai, ketika belum ada kereta arah sudirman, dari jakarta sudah muncul si ekonomi. Dengan berat hati akirnya kunaiki juga itu kereta.
Kereta yang sudah sangat penuh untuk ukuran orang awam, namun masih dianggap kosong oleh para komuter, rombongan kereta yang tampaknya sudah terbiasa menaiki si eko.
Semerbak aroma keringat langsung merasuk saat memasuki gerbong, bergabung bersama ratusan penumpang yang sudah lebih dahulu berada di gerbong. Serempak berpegangan, bergantungan di pintu, mengisi celah-celah yang masih memungkinkan untuk ditempati. Dorongan dari penumpang belakang menempatkanku tepat di tengah jalur pintu. Tanpa ada pegangan, terhimpit tubuh penumpang lain, tak perlu khawatir akan terjatuh, karena sudah tidak ada ruang untuk jatuh.
Memasuki cawang, penumpang semakin menumpuk, penumpang yang akan menaiki gerbong seakan tak peduli dengan keadaan di dalam gerbong yang sudah sangat padat. Mereka hanya berpikir bagaimana caranya mereka bisa terangkut kereta ini. Desakan dari luar semakin menambah erat himpitan, penumpang di sisi lain gerbong mencoba bertahan agar tubuhnya tidak terdorong keluar, sementara di sisi peron para penumpang mengerahkan segenap kekuatannya agar bisa masuk kereta. Pertemuan dua kekuatan itu semakin membuatku terhimpit, keringat deras mengucur, posisi berdiri sudah miring 20 derajat, posisi yang dalam kondisi normal akan membuat siapapun terjatuh, namun kereta ini sudah sangat padat sehingga tak mungkin terjatuh di gerbong.
Terbayang sudah perjuangan mereka yang harus setiap hari menaiki kereta ini, badan yang sudah lelah mengerjakan pekerjaan kantor masih harus dibebani lagi oleh perjuangan mendapatkan tempat di kereta, pulang pergi seperti ini.
Angin sejuk yang berhembus dari jendela saat kereta melaju sudah tidak kurasakan lagi yang ada hanyalah hawa panas laksana di spa. Desahan nafas yang berebut oksigen tersisa dari gerbong yang seakan berubah menjadi kaleng sarden. Malam hari saja sudah seperti ini panasnya, bagaimana dengan mereka yang harus mengarungi ganasnya si eko di siang hari..
Arghh.. Sedemikian kejamnyakah tuntutan mencari nafkah di ibukota. Mereka yang malam ini bergantungan di kereta akan mengulangi ritual yang sama esok hari, tubuh yang belum pulih dari penatnya perjuangan malam ini akan kembali dipaksa berjuang di pagi hari, untuk kemudian mengulangnya saat malam tiba..
Omg.. Sungguh aku bersyukur masih bisa menikmati pakuan..

hore jum’at lagi

Oct 8, ’09 11:26 PM

Senangnya jika jum’at sudah tiba. Jum’at merupakan hari besar, ada sholat jum’at disitu. Kita diperintahkan menggunakan baju terbaik, mandi, memakai wangi-wangian, dan bersegera menuju ke masjid.
Hari jum’at juga berarti hari terakhir bekerja, libur 2 hari sudah menanti. Libur, bisa menikmati pagi hari dengan bersantai di rumah, tak perlu tergesa-gesa menuju stasiun, bersegera menaiki kereta yang semua tempat duduknya sudah terisi sehingga harus merelakan duduk di lantai kereta dengan menggunakan kursi lipat.
Hanya di hari jum’at diselenggarakan senam, yang berarti tersedia snack gratis untuk dinikmati. Biasanya tidak hanya yang senam saja yang mencicipi snack ini. Senam juga menyebabkan jam mulai bekerja menjadi mundur.
Biasanya di hari jum’at ritme kerja tidak sekencang hari-hari lainnya, menjelang weekend mendadak semua berbaik hati untuk mengendurkan kesibukannya.
Hanya satu yang kurang menyenangkan di hari jum’at. Lalu lintas yang bertambah macet saat pulang kerja!

karyawan, pilihan atau keharusan

Oct 8, ’09 6:14 AM

Mencari nafkah itu wajib. Tetapi menjadi karyawan itu apakah termasuk kewajiban juga. Hi hi pastinya bukan, tapi mengapa seseorang memilih menjadi karyawan?
Kenapa saya menjadi karyawan. Apakah ada pilihan lain? Sebenarnya banyak alternatif lain selain karyawan, ada buka usaha sendiri, menjadi tenaga profesional, konsultan, ataupun freelance.
Tapi selain karyawan, masih sukar untuk dibayangkan bagaimana caranya menjalani profesi lain. Bagaimana cara memulainya. Apa karena sejak dulu sudah terpatri harus jadi karyawan, sehingga tidak mampu menjalankan atau bahkan sekedar membayangkan profesi selain karyawan.
Banyak buku ditulis untuk berpaling dari dunia karyawan. Banyak kisah sukses orang-orang yang merintis usaha baru. Tapi untuk memulai kearah sana memang belum terpikirkan, atau itu hanyalah alasan semata, sebagai pemebenaran dari rasa takut untuk meninggalkan dunia karyawan 🙂

kereta pendek

Jul 7, ’09 3:56 AM

Sore itu di stasiun sudirman, suasana normal seperti hari kerja pada umumnya. Pekerja komuter sudah bersiaga di tempat favorinya menunggu kereta datang. Biasanya masing-masing pekerja selalu menunggu di tempat yang sama setiap harinya.
Tempat favorit saya ada di belakang bangunan jalur 2. Sebagian tempat tersita oleh bangunan, sehingga penumpang bisa bersandar pada temboknya. Selain itu tempat yang sempit tidak memungkinkan penumpang bergerombol, efeknya saat naik kereta tidak terlalu berebut.
Gerbong 7 selalu berhenti di tempat itu, biasanya kereta tidak terlalu padat sehingga masih terdapat kursi kosong untuk diduduki. Jika semua kursi sudah terisi maka tempat dekat pintu menjadi pilihan untuk membuka kursi lipat dan bersandar pada pintu. Cukup nyaman untuk melepas lelah sambil meneruskan bacaan yang belum selesai.
Kereta yang dinanti datang juga, namun ada yang aneh dari kereta yang datang ini. Tampang depannya tidak kotak seperti umumnya pakuan, kereta ini miring seperti jajaran genjang. Keanehan terus berlanjut saat kereta terus berjalan melewati tempatku menunggu. Si gerbong 7 melewatiku!
Ternyata kereta yang akan membawaku pulang adalah rangkaian kereta pendek, jika biasanya pakuan terdiri dari 8 gerbong, kereta ini hanya memiliki 6 gerbong. Penumpang yang biasanya menaiki gerbong 7 & 8 kecele, semua berlari menuju gerbong 6.
Kehilangan 2 gerbong berakibat pada menumpuknya penumpang, semua mendesak masuk berupaya agar tak tertinggal. Suasana di dalam gerbong sudah seperti sarden, padat, dan terkadang terendus aroma menyengat dari pekerja yang sudah seharian beraktifitas. Tanpa berpeganganpun tak perlu khawatir terjatuh karena sudah tidak tersedia ruang untuk jatuh.
Entah mengapa kcj berbuat seperti ini, jam padat justru dikirim si kereta pendek untuk melayani pekerja komuter. Ada baiknya juga jika decision maker kjc ikut menikmati perjalanan nan melelahkan dengan kereta pendek ini..