hore jum’at lagi

Oct 8, ’09 11:26 PM

Senangnya jika jum’at sudah tiba. Jum’at merupakan hari besar, ada sholat jum’at disitu. Kita diperintahkan menggunakan baju terbaik, mandi, memakai wangi-wangian, dan bersegera menuju ke masjid.
Hari jum’at juga berarti hari terakhir bekerja, libur 2 hari sudah menanti. Libur, bisa menikmati pagi hari dengan bersantai di rumah, tak perlu tergesa-gesa menuju stasiun, bersegera menaiki kereta yang semua tempat duduknya sudah terisi sehingga harus merelakan duduk di lantai kereta dengan menggunakan kursi lipat.
Hanya di hari jum’at diselenggarakan senam, yang berarti tersedia snack gratis untuk dinikmati. Biasanya tidak hanya yang senam saja yang mencicipi snack ini. Senam juga menyebabkan jam mulai bekerja menjadi mundur.
Biasanya di hari jum’at ritme kerja tidak sekencang hari-hari lainnya, menjelang weekend mendadak semua berbaik hati untuk mengendurkan kesibukannya.
Hanya satu yang kurang menyenangkan di hari jum’at. Lalu lintas yang bertambah macet saat pulang kerja!

karyawan, pilihan atau keharusan

Oct 8, ’09 6:14 AM

Mencari nafkah itu wajib. Tetapi menjadi karyawan itu apakah termasuk kewajiban juga. Hi hi pastinya bukan, tapi mengapa seseorang memilih menjadi karyawan?
Kenapa saya menjadi karyawan. Apakah ada pilihan lain? Sebenarnya banyak alternatif lain selain karyawan, ada buka usaha sendiri, menjadi tenaga profesional, konsultan, ataupun freelance.
Tapi selain karyawan, masih sukar untuk dibayangkan bagaimana caranya menjalani profesi lain. Bagaimana cara memulainya. Apa karena sejak dulu sudah terpatri harus jadi karyawan, sehingga tidak mampu menjalankan atau bahkan sekedar membayangkan profesi selain karyawan.
Banyak buku ditulis untuk berpaling dari dunia karyawan. Banyak kisah sukses orang-orang yang merintis usaha baru. Tapi untuk memulai kearah sana memang belum terpikirkan, atau itu hanyalah alasan semata, sebagai pemebenaran dari rasa takut untuk meninggalkan dunia karyawan 🙂

kereta pendek

Jul 7, ’09 3:56 AM

Sore itu di stasiun sudirman, suasana normal seperti hari kerja pada umumnya. Pekerja komuter sudah bersiaga di tempat favorinya menunggu kereta datang. Biasanya masing-masing pekerja selalu menunggu di tempat yang sama setiap harinya.
Tempat favorit saya ada di belakang bangunan jalur 2. Sebagian tempat tersita oleh bangunan, sehingga penumpang bisa bersandar pada temboknya. Selain itu tempat yang sempit tidak memungkinkan penumpang bergerombol, efeknya saat naik kereta tidak terlalu berebut.
Gerbong 7 selalu berhenti di tempat itu, biasanya kereta tidak terlalu padat sehingga masih terdapat kursi kosong untuk diduduki. Jika semua kursi sudah terisi maka tempat dekat pintu menjadi pilihan untuk membuka kursi lipat dan bersandar pada pintu. Cukup nyaman untuk melepas lelah sambil meneruskan bacaan yang belum selesai.
Kereta yang dinanti datang juga, namun ada yang aneh dari kereta yang datang ini. Tampang depannya tidak kotak seperti umumnya pakuan, kereta ini miring seperti jajaran genjang. Keanehan terus berlanjut saat kereta terus berjalan melewati tempatku menunggu. Si gerbong 7 melewatiku!
Ternyata kereta yang akan membawaku pulang adalah rangkaian kereta pendek, jika biasanya pakuan terdiri dari 8 gerbong, kereta ini hanya memiliki 6 gerbong. Penumpang yang biasanya menaiki gerbong 7 & 8 kecele, semua berlari menuju gerbong 6.
Kehilangan 2 gerbong berakibat pada menumpuknya penumpang, semua mendesak masuk berupaya agar tak tertinggal. Suasana di dalam gerbong sudah seperti sarden, padat, dan terkadang terendus aroma menyengat dari pekerja yang sudah seharian beraktifitas. Tanpa berpeganganpun tak perlu khawatir terjatuh karena sudah tidak tersedia ruang untuk jatuh.
Entah mengapa kcj berbuat seperti ini, jam padat justru dikirim si kereta pendek untuk melayani pekerja komuter. Ada baiknya juga jika decision maker kjc ikut menikmati perjalanan nan melelahkan dengan kereta pendek ini..

ditunggu 242

Jun 20, ’09 7:59 AM

242 merupakan nomer kereta yang selalu membawaku kembali ke bogor setelah seharian kerja. Berangkat dari stasiun sudirman pukul 15:21.
Jika jam kerja normal berakhir 14:30 maka tersedia waktu 51 menit untuk mencapai sudirman. Jika tenggat waktu terlewat, maka bersiaplah menunggu hingga jam 19:25, saat 252 berangkat.
Dalam kondisi lalu lintas lancar 51 menit untuk mencapai sudirman bukanlah masalah besar, namun jalur gatsu – sudirman merupakan jalur rawan macet. Tak pelak setiap hari merupakan saat-saat mendebarkan, berpacu dengan waktu, sanggupkah 640 mengantarku ke sudirman dalam tenggat waktu tersebut..

mengejar 205

Jun 14, ’09 12:30 AM

KAI Commuter Jakarta punya cara yang aneh dalam memarkir keretanya. Tidak pernah ada susunan yang sama setiap harinya. Hal ini membuat penumpang selalu bertanya-tanya di jalur berapa kereta mereka diparkir setiap paginya, akibatnya petugas stasiun menjadi narasumber yang slalu diharapkan. Kebingungan itu tidak hanya dialami oleh penumpang, terkadang petugas pun bingung dan memberikan informasi yang salah.
Informasi yang salah dari petugas menimpa para penumpang pagi ini. Saat ditanya dimana kereta ke tanah abang mereka menjawab masih di depo. Dengan semangat kudatangi depo, kulihat serombongan penumpang menuju kesana. Sudah terbayang gerbong kereta kosong yang menanti. Setibanya di depo, ternyata ada banyak kereta yang parkir. Kutanya kembali kepada petugas depo, dimanakah kereta ke tanah abang agar tidak terbawa ke tempat yang salah, dia menjawab bahwa kereta sudah stand by di jalur 5. Omg! Kuhabiskan 200 meter hanya untuk mendapatkan kepastian bahwa kereta sudah di jalur 5. Dengan gontai aku berbalik menuju jalur 5, berarti 400 meter jarak kutempuh sudah, dan aku tidak sendiri. Penumpang lainpun sama kecelenya.
Kudapati pakuan 205 di jalur 5, untung masih terdapat kursi kosong di kereta itu. Kalau saja semua kursi sudah penuh pasti petugas yang salah memberikan informasi sudah mendapatkan sarapan berupa hujatan dari penumpang yang merasa tertipu..