Muram

Tak seperti biasanya sholat dhuhur di masjid ini tampak sepi. Hanya ada 2 shaft. Itu pun tak penuh.
Aktivitas di komplek perkantoran dimana masjid ini berada pun tampak serupa. Parkiran yang biasanya padat kini lengang. Tak tampak lagi antrian mobil meninggalkan area perkantoran saat jam istirahat tiba.
Ternyata sebagian penghuni perkantoran ini telah dipindahkan. Kinerja perusahaan yang belum juga membaik telah memaksa manajemen melakukan langkah drastis untuk mengurangi biaya. Gedung yang dulu ramai kini sunyi.
Taman depan lobi utama yang senantiasa resik kini tak terawat, rerumputan tumbuh tak beraturan. Tembok yang kusam menambah muram suasana. Semuram kinerja yang tercatat..

Tersandera

Mengorbankan suatu hal untuk mendapatkan hal yang lain. Semakin banyak yang dikorbankan semakin banyak yang didapat. Mendapatkan semuanya tanpa ada yang berkurang merupakan kondisi yang hampir tak dapat dicapai. Doktrin inilah yang selalu ditanamkan oleh pengajar ilmu ekonomi.
Mendapatkan manfaat dari pengurangan manfaat yang lain. Mendapatkan benefit, menukarnya dengan waktu yang tersisa. Dua sisi yang seolah berseberangan. Kata yang tersedia adalah atau, bukan dan.
Semakin banyak benefit yang diterima. Semakin tinggi manfaat yang diperoleh. Semakin berkurang waktu yang ada.
Dimanakah titik optimal itu. Waktu yang sudah sedikit semakin sedikit. Hari hari dilalui mengejar benefit. Benefit yang menuntut beragam konsekwensi.
Hari berganti minggu. Benefit yang menyenangkan kini semakin menuntut. Mengambil porsi yang bukan peruntukannya. Waktu yang sedikit semakin sedikit.
Mengais-ngais waktu yang tersisa. Terkadang masih juga dirongrongnya. Tersandera..

Mendatangi

Berangkat pagi dari rumah, walau hari libur. Menempuh 35 kilometer. Menuju satu tempat yang belum pernah didatangi.
2 jam perjalanan ditempuh. Bergetar rasa saat mulai mendekati tempat kajian. Saat bersua para penuntut ilmu di sepanjang jalan. Tak hiraukan jauhnya jarak, bertekad kuat mendatangi ahli ilmu.
Tiba di lokasi. Di pinggiran kabupaten. Rasa haru membuncah. Dua lapangan parkir yang disediakan penuh sesak.
Peserta hadir dari segala penjuru. Kecamatan dan kota terdekat. Propinsi sekitar, bahkan dari luar pulau. Semoga kami semua diberikan kekuatan untuk selalu berada menuntut ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya.

image
Salah satu lapangan parkir yang penuh

Tiga Dasawarsa

Tiga dasawarsa berlalu sejak saya terakhir mengunjungi masjid ini. Waktu itu keluarga saya baru saja pindah ke kota ini. Ayah mengajak kami sholat tarawih disini.
Masjid ini merupakan masjid besar pada saat itu. Terletak tepat di tengah kota. Kota kecil yang saat itu baru berstatus kecamatan.
Sekelebat ingatan muncul saat saya kembali mengunjungi masjid ini. Teringat kembali saat saya be

rkejaran,

berlari lari di sela shaft. Mungkin di masjid ini pula saya pertama kali melaksanakan sholat jum’at. Pesan ayah saat itu sederhana saja, ikuti gerakan ayah.
Tak banyak perubahan yang terjadi di masjid ini. Lantai yang digunakan masih sama seperti dahulu. Hanya AC split saja yang tampak menjadi pembeda.
Lingkungan sekitar masjid sudah sangat jauh berbeda. Sekolah berlantai dua berdiri megah di samping masjid. Jalan raya 4 lajur di depan masjid. Semua sudah jauh berubah. Masjid dan menara ini masih seperti dulu. Tiga dasawarsa yang lalu.