kenapa pengen pindah..

Gak tau juga kenapa saya pengen pindah
Sejak dulu sudah ada keinginan untuk merasakan bekerja di perusahaan besar
Pengen tau aja sistemnya seperti apa
Pengen juga ngerasain gimana susahnya kerja di swasta
Pengen ngerasain ngembangin diri di lingkungan yang jauh lebih luas
Pengen kerja di perusahaan yang bener bener besar

Apakah sesederhana itu?
Apakah keinginan sederhana itu gak boleh membuat saya ingin pindah?

Pengen punya cv bagus
Mentereng
Pencapaian yang aduhai

Cuma itu..

Sebab lainnya adalah lokasi kerja di tempat sekarang selalu membuat nyonya tidak nyaman
Kasihan melihatnya selalu gelisah
Menunggu sabtu minggu untuk meninggalkan kota ini

Sepertinya hanya itu..

Gaji saat ini sudah cukup buat saya
Ditambah tunjangan dan terkadang insentif dadakan
Belum lagi bonus yang kadang meledak
Kendaraan dinas kinyis kinyis menambah kenyamanan kerja disini
Zona yang terlalu nyaman buat saya
Ada ketakutan 3 atau 5 tahun dari sekarang saya mengalami kemunduran skill dan akan semakin jauh tertinggal jika dibandingkan dengan rekan rekan yang bekerja di perusahaan mnc besar ataupun kap

Mungkin itu juga bisa jadi faktor tambahan

Namun apa yang saya rasakan saat ini
Dini hari
Di kereta menuju jogja yang entah kenapa tidak bergerak
Ada ketakutan tersendiri
Bagaimana seandainya wawancara yang tadi sore dilakukan ini berhasil
Ketakutan yang wajar mungkin
Ketakutan yang timbul saat adzan maghrib bergema, dan sesi itu terus berlanjut
Ketakutan tidak menemukan kebebasan beribadah seperti yang bisa dilakukan di perusahaan sekarang

Takut keterima
Sebuah ketakutan yang absurd
Ngapain juga kirim cv kalo ternyata takut keterima
Aneh

Saya tidak tahu bagaimana hasil dari 2 proses yang sungguh di luar dugaan ini
Hampir bersamaan
Seorang sahabat pernah berbagi, nikmati saja prosesnya
Upayakan yang terbaik
Dan lihat sejauh apa kita sanggup menerjang

Entahlah
Yang jelas satu yang saya rasakan saat ini
Takut keterima
Sungguh ke-ge’eran yang benar benar ge’er

#pindahperahu

pindah perahu…

Kembali di bis ini, bis yang akan membawaku kembali ke kota tempat bekerja. Hanya 2,5 jam saya berada di ibu kota, 1 jam yang mungkin akan menjadi salah satu momen perubahan.
Setelah sekian lama mencoba, akhirnya cv itu pun menembus ketatnya seleksi administratif. Alhamdulillah, rekomendasi seorang kawan berhasil membawa cv ini ke tingkat selanjutnya.
Sama seperti sesi wawancara yang pernah saya ikuti, sesi kali ini pun berlangsung full english, bedanya pewawancara saat ini adalah ekspatriat. Hanya dua hari persiapan yang saya miliki, kesibukan luar biasa di kantor memaksa saya tak bisa sedikitpun mempersiapkan diri lebih awal.
Hmm soal kesibukan di kantor kembali saya teringat disaster meeting kemaren, parah.. *nanti akan saya coba berbagi mengapa meeting tersebut menjadi disaster
Bocoran tentang user yang akan mewawancarai banyak membantu saya dalam mempersiapan mental. Beda dengan sesi wawancara terdahulu, tanpa sedikitkun informasi tentang pewanwancara, sukses saya dibuat terhenyak dengan pertanyaan full english, dan berakhir dengan kegagalan total.
Mental yang telah siap membuat saya lebih tenang dalam menjawab pertanyaan, namun demikian kekakuan lidah dan terbatasnya vocab membuat sesi tersebut berlangsung singkat.
Apapun hasilnya nanti, yang jelas upaya untuk #pindahperahu telah dilakukan dan akan terus dicoba, tetap bergerak dalam rangka #terusberlayar menuju pulau impian.


Termenung di tempat cuci mobil
Terbayang apa yang terjadi di rapat tadi
Betapa tidak handalnya angka yang disajikan

Sampai kapan kejadian ini terus berulang
Skema apa yang harus diterapkan
Mengantisipasi sebelum terlambat

5 bulan berlalu sejak penugasan itu
Masa sementara pun berlalu sudah
Apakah ini yang dicari

Tanggung jawab yang sedemikian berat
Tuntutan yang semakin tinggi
Ekspektasi yang terlalu besar

GPS

The Global Positioning System (GPS) is a satellite-based navigation system made up of a network of 24 satellites placed into orbit by the U.S. Department of Defense. GPS was originally intended for military applications, but in the 1980s, the government made the system available for civilian use. GPS works in any weather conditions, anywhere in the world, 24 hours a day. There are no subscription fees or setup charges to use GPS | sumber http://www8.garmin.com/aboutGPS/&client=ms-rim&q=gps&sa=X&ei=kp0tUN–A5LDyQG5moDQBg&ved=0CCUQFjAB

Saya selalu membawa GPS dalam perjalanan mudik. Dua tahun yang lalu alat ini sukses memandu saya ke tempat tujuan. Tahun ini ceritanya berbeda.
Keinginan untuk menggunakan produk berlisensi dan original membuat saya membeli unit baru untuk menemani perjalanan mudik kali ini. Saya berharap dengan GPS yang memiliki fitur yang lebih lengkap dan peta yang paling update, perjalanan mudik menjadi semakin menyenangkan. Tidak perlu lagi berpikir rute mana yang akan dilewati, tinggal mengikuti petunjuk yang tampak dari layar 5”nya.
Perjalanan hari pertama berlangsung lancar, tanpa ada kendala berarti dari GPS. Sesekali GPS tidak menemukan rute yang kami lewati, namun saya masih menganggapnya wajar karena polisi menutup jalur utama mudik dan mengarahkan kami melewati jalur alternatif. Sedemikian alternatifnya jalur tersebut hingga kami sempat melintasi persawahan dan perumahan penduduk pedesaan.
Perjalanan hari kedua, hmm.. disinilah kisah ini dimulai, salah satu perjalanan yang akan selalu menjadi kenangan. Perjalanan yang mengingatkan betapa tidak berdayanya saya sebagai manusia. Perjalanan yang memaksa saya untuk selalu memeriksa rencana rute hingga ke detail. Perjalanan yang mengajarkan saya untuk tidak bolehnya ada sedikitpun perasaan sombong dan keyakinan berlebih terhadap alat ataupun rencana manusia.
Memasuki Semarang, GPS mengarahkan kami melewati kaliwungu, namun permintaan tersebut kami abaikan karena jalan tol telah terlihat. GPS kembali mengarahkan kami melewati jalur yang tidak dikenal saat berada di Jombang. Keluar dari jalan utama, melalui jalan sempit pedesaan, melintasi hutan dengan kemiringan lebih dari 45 derajat, jalur yang sungguh benar benar alternatif. Terlihat di monitor, jalan yang kami lewati bernama rute gerilya.
Melintasi tanjakan berkelok, dengan hutan cemara di kiri kanan jalan, jurang terjal disisi jalan.. Sungguh bukanlah rute ideal yang saya inginkan. 23 km yang benar – benar menguras emosi, tanpa sedikit pun lampu penerangan jalan. Hanya 3 mobil yang kami temui sepanjang rute tersebut. Perasaan senang karena hampir mencapai tujuan mendadak berubah menjadi perasaan cemas, waspada.. Terlambat belok sedikit saja, jurang nan terjal sudah menanti…
Alhamdulillah rute tersebut dapat kami lewati, sampai di tujuan dengan selamat, mundur hampir 2 jam dari waktu perkiraan semula.. Salah satu rute paling ekstrim yang pernah saya lewati. Esoknya saya mendapat informasi jika rute yang kami lewati adalah rute lintas alam.. Tak terbayang sekiranya terjadi sesuatu pada kendaraan kami pada malam itu di rute tersebut..
╮(“╯_╰)╭