mengejar 205

Jun 14, ’09 12:30 AM

KAI Commuter Jakarta punya cara yang aneh dalam memarkir keretanya. Tidak pernah ada susunan yang sama setiap harinya. Hal ini membuat penumpang selalu bertanya-tanya di jalur berapa kereta mereka diparkir setiap paginya, akibatnya petugas stasiun menjadi narasumber yang slalu diharapkan. Kebingungan itu tidak hanya dialami oleh penumpang, terkadang petugas pun bingung dan memberikan informasi yang salah.
Informasi yang salah dari petugas menimpa para penumpang pagi ini. Saat ditanya dimana kereta ke tanah abang mereka menjawab masih di depo. Dengan semangat kudatangi depo, kulihat serombongan penumpang menuju kesana. Sudah terbayang gerbong kereta kosong yang menanti. Setibanya di depo, ternyata ada banyak kereta yang parkir. Kutanya kembali kepada petugas depo, dimanakah kereta ke tanah abang agar tidak terbawa ke tempat yang salah, dia menjawab bahwa kereta sudah stand by di jalur 5. Omg! Kuhabiskan 200 meter hanya untuk mendapatkan kepastian bahwa kereta sudah di jalur 5. Dengan gontai aku berbalik menuju jalur 5, berarti 400 meter jarak kutempuh sudah, dan aku tidak sendiri. Penumpang lainpun sama kecelenya.
Kudapati pakuan 205 di jalur 5, untung masih terdapat kursi kosong di kereta itu. Kalau saja semua kursi sudah penuh pasti petugas yang salah memberikan informasi sudah mendapatkan sarapan berupa hujatan dari penumpang yang merasa tertipu..

jalur baru

Jun 13, ’09 10:38 AM

Sejak ditutupnya uki, segalanya berubah. Tidak ada lagi bis bogor uki, 46, ataupun p6. Selamat tinggal penitipan motor damri.
Jalur kerja praktis berubah, tidak lagi menuju selatan. Jalur baru itu menuju ke barat, dimana stasiun berada.
Kereta rel listrik menjadi sahabat setia kini, pengantar pulang pergi menuju jakarta. 46 berganti menjadi 640, dropzone uki menjadi stasiun sudirman.
Waktu tempuh dan biaya bertambah, dan yang paling menyebalkan adalah hilangnya kebebasan. Bis selalu tersedia kapanpun juga, kesiangan ataupun kepagian tidak pernah menjadi masalah. Kereta? Jadwal sudah ditentukan, jangan harap bebas memilih, kesiangan sedikit saja terancam menunggu keberangkatan selanjutnya, itupun jika masih tersedia.
Namun semua tetap harus dijalani, kuatkan dirimu sobat..

tinggal kenangan

May 29, ’09 2:16 AM

Masa-masa indah itu masih berbekas dalam ingatan. Saat bis-bis yang akan menuju uki berbaris rapi menunggu giliran. Tak sampai 10 menit penumpang sudah memenuhi bis, dan bis segera berangkat.
Pagi ini pemandangan itu tak lagi kujumpai, tidak ada lagi bis yang bergegas pergi, seiring dengan penumpang yang antusias menaiki bis. Suasana terminal menjadi hambar. Masih banyak terlihat wajah bingung penumpang, berpikir keras menentukan bis pengganti.
Akhirnya kuputuskan untuk mencoba bis kalideres, bis masih kosong, lama menanti, namun bis tak kunjung penuh. Setengah jam berlalu, justru pengamen yang naik, menyanyikan 2 buah lagu. Biasanya dalam waktu 30 menit bis uki sudah melewati cibubur, tapi didalam bis ini bahkan belum terlihat supir yang akan mengemudikannya!
Kuputuskan bahwa jalur kalideres tak bisa diandalkan untuk membawaku ke tempat kerja.
Entah jalur mana lagi yang akan kucoba, yang pasti uki hanya tinggal kenangan..

uki yang hilang

May 27, ’09 10:50 PM

Mimpi buruk itu menjadi kenyataan. Setelah sebelumnya hanya sekedar isyu, mulai rabu 27 mei uki benar-benar tertutup bagi bis akap.
Akibatnya ribuan penumpang terlantar. Bertumpuk memadati jalan yang biasa dilalui oleh bis setianya. Terbayang warna putih biru laju utama, merahnya argamas yang selalu melintas untuk menjemput para komuter.
Esoknya kehebohan menjalar ke terminal baranangsiang bogor, dua armada bis menutup pintu keluar terminal. Semua bis mogok, menentang peraturan dishub dki yang melarang akap memasuki uki.
Peraturan yang terbit hanya karena bis akap dianggap sebagai pemicu kemacetan di daerah uki. Sebuah peraturan yang terlalu menyederhanakan masalah. Apakah dengan dilarangnya bis akap masuk uki secara otomatis membebaskan uki dari kemacetan. Entahlah. Yang jelas peraturan itu telah menyusahkan ribuan orang.
Para pekerja komuter harus menghitung ulang anggaran transportasi dan waktu tempuh yang akan bertambah. Ratusan tukang ojek, pedagang asongan, warung makan terancam kehilangan pasarnya. Belum lagi pengusaha bis serta crewnya yang paling terpukul atas peraturan ini, 90% penumpang yang naik bis tujuannya adalah turun di uki! Dengan ditutupnya uki, dipastikan bis akan kosong melompong. Dan kebangkrutan tinggal menunggu waktu saja.
Sebagai karyawan komuter saya hanya bisa tersenyum kecut,sambil membayangkan apa yang dipikirkan para pembuat keputusan ini…

kramat djati komuter

May 16, ’09 3:39 AM

Kramat Djati, merk yang sudah kondang dalam dunia bis malam. Merupakan bis idola sejak jaman kecil dulu. Kekaguman akan bis ini bermula saat menunggu keberangkatan bis lain ke Malang, tiba-tiba lewat serombongan kramat djati, drivernya memakai baju formal, lengkap dengan dasi. Sejak itulah timbul rasa kagum terhadap kramat djati. Terlebih lagi jika memesan tiket di jalan Ambon, wah tiketnya hasil print out komputer, persis seperti tiket kereta api eksekutif!

Pokoknya kramat djati, setiap hendak berpergian dengan bis malam pilihan pertama adalah kramat djati. Tak peduli apa kata orang; “..kramat djati gak pernah nyetel film..”, “…makanannya gak enak…”,”..bawanya gak mulus..”, dan semua omongan negatif tentang kramat djati tak pernah digubris.

Namun itu dulu, sekarang saat setiap hari harus melalui rute jakarta bogor, kramat djati sudah bukan pilihan pertama lagi. Mungkin karena rutenya pendek, sehingga bis-bis yang disediakan kramat djati tidak sebaik armada bis malamnya. Sebenarnya tidak masalah jika bisnya merupakan bis lama yang sudah tidak digunakan lagi sebagai bis malam, asalkan kondisinya tetap prima. Tapi bis kramat djati komuter terlalu banyak kekurangan jika dibandingkan dengan pesaingnya, misalnya laju utama atau arga mas.

Jarak antar bangku yang sempit, ac yang tidak bisa diatur, terkadang gordeng sudah bau, dan kecepatan yang biasa-biasa saja membuat kramat djati dihindari. Bahkan jika bis yang akan berangkat dibelakang kramat djati adalah laju utama atau arga mas, dipastikan penumpang akan memilih bis yang dibelakang. Tak masalah berangkatnya lebih lama, asalkan sampainya lebih cepat dan nyaman. Tol jagorawi menjadi saksi disusulnya kramat djati yang berangkat lebih cepat oleh bis-bis dibelakangnya.

Disinlah terjadi pergolakan antara idealisme dan realitas, satu sisi ingin memilih kramat djati yang merupakan pahlawan masa kecil, namun disisi lain kenyamanan dan kecepatan bis rival selalu menjadi pertimbangan. Akhirnya realitas yang menang, dengan berat hati kulewati pintu kramat djati, kulirik masih banyak bangku kosong. Langsung aku naik bis yang ngetem tepat dibelakangnya, lho ternyata bis ini justru sudah lebih penuh daripada kramat dajati. Ternyata bukan aku seorang yang menghindari kramat djati 😦