delay

Dec 15, ’10 11:56 PM

Delay atau ditunda.. Mundurnya kegiatan dari jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya. Delay sepertinya telah menjadi keharusan dalam semua penyusunan jadwal keberangkatan sarana transportasi di negeri ini, bahkan moda transportasi yang banyak dipilih karena alasan akurasi waktunya lebih bisa diandalkan.. Keterlambatan pemberangkatan pesawat adalah suatu yang lazim, bahkan untuk penerbangan pertama di pagi hari pun tak luput dari fenomena ini, dan biasanya semakin siang jadwal penerbangan yang dipilih maka tingkat penundaan akan semakin lama.. Tidak jelas alasan penundaan, umumnya yang diumumkan secara resmi adalah akibat kendala operasional. Penundaan yang timbul hampir di setiap jadwal penerbangan menimbulkan pertanyaan tersendiri, apakah jadwal asli adalah jadwal setelah penundaan, sementara jadwal yang tertulis di tiket adalah jadwal yang sudah memperhitungkan toleransi keterlambatan penumpang..
Banyaknya keterlambatan yang terjadi membuat bandara tidak mampu lagi menampung penumpang yang menunggu keberangkatan, sementara penumpang baru sudah berdatangan, penumpang lama yang mengalami keterlambatan belum juga berangkat. Akibatnya pemandangan sepanjang koridor tak ubahnya penampungan pengungsi bencana alam. Penumpang yang lelah menunggu, memilih duduk di lantai, lengkap dengan segala macam barang bawaan.
Tak ada batasan pasti seberapa lama delay diperbolehkan, seorang teman pernah mengalami delay 6 jam, dan itu terjadi tak cuma sekali..
Biasanya tanda-tanda akan terjadinya delay bisa diketahui dari adanya tumpukan kotak di dekat counter. Waspadalah jika kotaknya besar, kotak besar berisi nasi beserta lauknya, yang berarti akan terjadi keterlambatan lebih dari 2 jam, sementara kotak kecil berisi snack, keterlambatan sekitar 30 menit saja.
O ya tulisan ini dibuat disaat menunggu pemberangkatan akibat delay.. Alhamdulillah tidak terlihat tumpukan kotak di sekitar sini 🙂

puasa di ibukota

Aug 28, ’10 5:36 AM

Tak terasa 15 hari puasa terlampaui sudah. Puasa ke-4 di jakarta, berarti 3 tahun sudah aku berada disini. Puasa pertama dijalani pada bulan pertama di jakarta. Shock akibat ritme hidup yang berubah drastis sedikit teredusir dengan adanya puasa. Saat itu jam 8 baru tiba di rumah. Buka puasa selalu dilakukan di masjid jami, setelah sebelumnya mampir di tukang gorengan untuk membeli takjil. Melanjutkan perjalanan dengan angkot, isya dilakukan di masjid sekitar laladon. Puasa kedua sudah mendapatkan rumah yang tidak terlalu jauh dari terminal, sehingga buka puasa dapat dilakukan di rumah dengan syarat sebelum jam pulang sudah antri di depan mesin absen.
Puasa ketiga mulai merasakan buka puasa di kereta, jadwal kedatangan yang hampir selalu dilanggar menyulitkan buka di rumah.
Puasa keempat mulai mencoba omprengan, kapasitas penumpang yang lebih sedikit membuat waktu ngetem lebih singkat, sehingga dalam kondisi normal pukul 5:30 tiba di rumah. Namun tetap dengan syarat sebelum jam pulang sudah ngantri di depan mesin absen.

kembali ke uki

May 9, ’10 6:33 AM

Sore itu seorang rekan memberitakan sebuah kabar duka. Kereta anjlok di manggarai… Hhmmm ada-ada saja ulah kereta ini, pernah sekali waktu dia anjlok tepat di depan depo dan menghalangi seluruh rangkaian yang ada di depo, praktis seluruh keberangkatan hari itu dibatalkan.
Now what..
Informasi itu hadir tepat sebelum jam pulang, sehingga memberiku kesempatan memikirkan rute pulang. Sebelumnya kusempatkan mengintip tweet dari infoka & krlmania, ternyata sudah ada update, anjloknya kereta kali ini menyebabkan tertutupnya sepur 1 – 6 manggarai, krl lumpuh. Bahkan kereta malam pun ikut terganggu.
Kuputuskan naik omprengan di uki, lokasi yang selalu kuhampiri sebelum akhirnya kutinggalkan karena kebijakan dishub menutup akses bis akap. Akses bis ditutup tapi omprengan dibiarkan bermunculan, ck ckck…
Kucegat 46 menuju uki, just like old time, rutinitas selama 2 tahun, tak terikat jadwal, tak ada anjlok, namun selalu diintai kemacetan.
Suasana uki memang menjadi agak lenggang, kolong tol yang selalu penuh oleh pedagang kini sepi.
Tiba di jalur pemberangkatan, tak nampak antrian omprengan, yang ada hanyalah calon penumpang yang bergerombol, berbaur bersama calo yang sibuk mengatur omprengan.
Uki tetap menjadi tempat transit yang menyenangkan, langsung tembus tol jagorawi untuk kemudian muncul di pintu tol bogor. Sayang kehadiran bis ac yang nyaman kini digantikan oleh omprengan, yang dengan seenaknya menakkan penumpang diatas kapasitasnya. Tak ada jaminan omprengan tersebut laik jalan.
Akhirnya kunaiki l300 tua, tanpa ac, tak ada pilihan, tak ada alternatif. Hanya menaiki yang ada, bagaimana secepatnya sampai di bogor…

2.000 rupiah

Feb 25, ’10 4:27 AM

Apalah artinya 2.000 rupiah bagi anda? Uang yang bahkan untuk membeli koran tempo-pun sudah tidak cukup lagi. Jangan harap merasakan kenikmatan mie ayam, bubur ayam ataupun nasi uduk dengan kepingan 2.000 rupiah. Bahkan untuk mendapatkan sebotol teh botol dingin pun masih memerlukan tambahan rupiah.
Namun tidak demikian halnya dengan kaum urban penikmat setia kereta ekonomi jakarta – bogor. 2.000 rupiah berarti tiket satu perjalanan. Perjalanan yang akan membawa anda menembus kemacetan jagorawi, tol dalam kota, ataupun jalur arteri cbd. Perjalanan yang juga menawarkan berbagai fasilitas yang bahkan tidak bisa dinikmati oleh mode angkutan lainnya. Tanpa perlu membayar uang member pusat kebugaran, di perjalanan ini anda bisa mendapatkan fasilitas mandi uap, baju bersih nan wangi saat menaiki kereta akan berubah kuyup saat mencapai tujuan. Jangan pertanyakan soal hiburan yang didapat selama perjalanan, live music akan selalu tersedia, dengan penyanyi yang berganti menunggu giliran pentas.
Fasilitas makan dan minum selalu tersedia, petugas akan membawa troli menawarkannya, tentunya untuk yang ini anda harus membayar tambahan biaya.
Fasilitas yang cukup mewah untuk 2.000 rupiah, menembus 60 km tanpa macet (kecuali menunggu disusul ekspress).

perjuangan di ka eko

Dec 23, ’09 8:51 PM

Loket stasiun cawang, jarum jam menunjukkan 19:00, sedikit bimbang berdiri di depan loket saat mengetahui kereta api ekonomi ac baru ada jam 20:30, pakuan ekspres sudah lewat sejak pukul 17:30. Pilihan satu-satunya hanyalah ka ekonomi yang katanya akan lewat sebentar lagi..
Menggendong tas overload, berisi perbekalan outbond selama 2 hari, celana gunung + kaos oblong gratisan dari eo menambah kesan kucel semakin nyata.
Tampang lusuh setelah menempuh perjalanan dari lembang semakin bertambah kusam saat mengetahui yang harus dihadapi adalah ka ekonomi. Perjalanan 1 jam nan melelahkan terbayang sudah..
Berharap masih bisa mendapatkan pakuan tanah abang di sudirman, ku melangkahkan kaki menuju peron sebrang, mencegat kereta arah jakarta..
Baru sampai di manggarai, ketika belum ada kereta arah sudirman, dari jakarta sudah muncul si ekonomi. Dengan berat hati akirnya kunaiki juga itu kereta.
Kereta yang sudah sangat penuh untuk ukuran orang awam, namun masih dianggap kosong oleh para komuter, rombongan kereta yang tampaknya sudah terbiasa menaiki si eko.
Semerbak aroma keringat langsung merasuk saat memasuki gerbong, bergabung bersama ratusan penumpang yang sudah lebih dahulu berada di gerbong. Serempak berpegangan, bergantungan di pintu, mengisi celah-celah yang masih memungkinkan untuk ditempati. Dorongan dari penumpang belakang menempatkanku tepat di tengah jalur pintu. Tanpa ada pegangan, terhimpit tubuh penumpang lain, tak perlu khawatir akan terjatuh, karena sudah tidak ada ruang untuk jatuh.
Memasuki cawang, penumpang semakin menumpuk, penumpang yang akan menaiki gerbong seakan tak peduli dengan keadaan di dalam gerbong yang sudah sangat padat. Mereka hanya berpikir bagaimana caranya mereka bisa terangkut kereta ini. Desakan dari luar semakin menambah erat himpitan, penumpang di sisi lain gerbong mencoba bertahan agar tubuhnya tidak terdorong keluar, sementara di sisi peron para penumpang mengerahkan segenap kekuatannya agar bisa masuk kereta. Pertemuan dua kekuatan itu semakin membuatku terhimpit, keringat deras mengucur, posisi berdiri sudah miring 20 derajat, posisi yang dalam kondisi normal akan membuat siapapun terjatuh, namun kereta ini sudah sangat padat sehingga tak mungkin terjatuh di gerbong.
Terbayang sudah perjuangan mereka yang harus setiap hari menaiki kereta ini, badan yang sudah lelah mengerjakan pekerjaan kantor masih harus dibebani lagi oleh perjuangan mendapatkan tempat di kereta, pulang pergi seperti ini.
Angin sejuk yang berhembus dari jendela saat kereta melaju sudah tidak kurasakan lagi yang ada hanyalah hawa panas laksana di spa. Desahan nafas yang berebut oksigen tersisa dari gerbong yang seakan berubah menjadi kaleng sarden. Malam hari saja sudah seperti ini panasnya, bagaimana dengan mereka yang harus mengarungi ganasnya si eko di siang hari..
Arghh.. Sedemikian kejamnyakah tuntutan mencari nafkah di ibukota. Mereka yang malam ini bergantungan di kereta akan mengulangi ritual yang sama esok hari, tubuh yang belum pulih dari penatnya perjuangan malam ini akan kembali dipaksa berjuang di pagi hari, untuk kemudian mengulangnya saat malam tiba..
Omg.. Sungguh aku bersyukur masih bisa menikmati pakuan..