culture shock

Perbedaan sifat antara bisnis pengelolaan gedung dan perhotelan tak pelak membuat saya tergopoh-gopoh. Bisnis pengelolaan gedung bisa dikatakan sebagai bisnis yang statis, penghuni gedung relatif tetap, jangka waktu sewa yang lama (umumnya lebih dari 1 tahun), dan pemenuhan kebutuhan operasional pengelolaan gedung yang relatif tetap, tidak banyak berubah baik dari jenis maupun kuantitas. Transaksi di gedung merupakan transaksi bulanan atau bahkan tahunan. Sementara di hotel sangat dinamis, konsumen yang dihadapi selalu berbeda, dengan kebutuhan berbeda pula. Setiap hari selalu ada tamu baru, transaksi baru, dan pemenuhan kebutuhan operasional hotel yang hampir setiap hari timbul, tak jarang lebih dari 3 kali perhari. Transaksi di hotel adalah transaksi harian.
Setelah 4 tahun berkutat di keuangan pengelolaan gedung, hari hari awal di perhotelan dipenuhi dengan lintasan pikiran bagaimana pejabat sebelumnya membagi waktunya. Hampir setiap jam (menit?) muncul dokumen baru yang perlu diverifikasi, secara prinsip sebenarnya tidak ada perbedaan antara lingkup tugas saya di pengelolaan gedung dan di hotel, sehingga mestinya tidak ada kekagetan berlebih terhadap tugas yang dijalankan. Namun yang membuat saya terengah-engah beradaptasi dengan tugas baru saya adalah frekwensi transaksi yang luar biasa jomplang, dan jauh diatas perkiraan saya. Sebagai gambaran, proses verifikasi account payable di gedung sekitar 70 – 90 dokumen perbulan, sementara di hotel 30 – 40 dokumen sudah antri minta diverifikasi setiap harinya. Lonjakan yang sama terjadi pula pada dokumen cash receipt, account receivable, general journal, dan tentunya cash disburshment yang selalu beriringan dengan ap.
Membludaknya dokumen yang segera harus diverifikasi maupun diapprove, lingkup kerja baru, serta rekan kerja baru membuat saya mengalami culture shock. Sambil terus berpikir bagaimana menata waktu untuk mengimbangi load pekerjaan, saya pun harus segera menemukan siasat supaya tidak tenggelam dalam rutinitas clerikal dan melupakan lingkup strategis…

last trip

Hari ini adalah perjalanan terakhir saya dengan commuter line (comlin), kereta yang kehadirannya diratapi penumpang pakuan ekspress. Comlin yang telah menghapus pakuan dari daftar perjalanan.
Berdiri sepanjang perjalanan (terkadang dengan gaya burung bangau *satu kaki tidak menapak lantai akibat sesaknya kereta), peluh bercucuran laksana di sauna, dan himpitan saat turun menjadi santapan sehari-hari.
2 bulan sudah comlin menempa kaum komuter, sejak kemunculannya sudah banyak keluhan, teriakan atau bahkan ratapan terhadap kondisinya. Namun lama kelamaan segala keberatan itu hanya terdengar sayup saja. Mungkin para komuter sudah pasrah, jenuh, atau imun terhadap tekanan perjalanan comlin.
Kaum komuter hanya bisa menghibur diri sambil berharap kereta lekas sampai. Tulisan ini pun dibuat saat bergelantungan di comlin..

time flies

Betapa cepatnya waktu berlalu, besok insyaAlloh menjadi hari terakhir saya berkantor disini. Ruangan yang sudah saya tempati sejak 2007. Tak terasa 4 tahun sudah terlewati, entah berapa kali saya menaiki anak tangga itu, berapa kali lift itu membawa saya, dan tentunya sudah berapa jam saya habiskan di jalan…
Waktu laksana pedang, pepatah berkata, apa yang sudah dilewati tak mungkin kembali. Entah apa yang menanti saya di depan sana, saat ini yang terbayang hanyalah kenangan di kantor ini, suasana yang mungkin akan saya rindukan kelak.
4 tahun sudah saya lalui sebagai komuter pergi saat matahari baru terbit, dan pulang saat matahari tenggelam. Semua moda transportasi sudah saya rasakan, mulai dari bis, kereta, dan omprengan, dari bis kota, metromini, dan ojek..
Hari senin pacuan baru akan dimulai, panggung dan alur cerita yang baru, dengan saya dan waktu tetap menjadi tokoh utamanya.. Mencoba mengimbangi kibasan sang waktu..

tour of duty

Kabar yang sudah lama berhembus itupun menjadi kenyataan. Sk mutasi terbitlah sudah. Tak ada pilihan lain bagi karyawan kecuali menjalankan, siap laksanakan..
Terbayang kembali masa menjadi karyawan kontrak, jelas tertulis satu klausul yang menyatakan bersedia ditempatkan dimana saja. Saat menjadi organik, klausul itu bahkan dipertegas dalam perjanjian kerja bersama, dan digolongkan sebagai pelanggaran bagi yang menolaknya.
4 tahun yang lalu sk serupa pernah saya dapatkan, namun disertai reward promosi, sk yang membawa saya kedalam ritme hidup kaum komuter, 4 jam dalam sehari dihabiskan di jalan. kisah komuter bisa dibaca disini
Ritme komuter yang membuat saya lebih tangguh, bergelantungan di kereta, bis kota, metromini, busway, ataupun duduk setengah bangku di omprengan.
Sekarang saya harus bersiap kembali untuk pindah, suasana baru, tugas baru sudah menanti. Lingkup yang lebih luas..

menunggu bursa buka

Menantikan jam buka bursa pada saat-saat seperti ini sungguh mencemaskan, terlebih lagi bagi saya yang merupakan investor pemula. Kondisi yang penuh dengan berita negatif mengenai perkembangan hutang amerika, penurunan rating oleh s&p di akhir pekan kemaren tak pelak membuat kecemasan semakin meningkat.
Keterlibatan (langsung) saya dengan bursa saham diawali dengan pemberian saham oleh perusahaan induk tempat saya bekerja. Sebelumnya saya hanya mengamati dari jauh saja, tidak terjun langsung. Waktu kuliah dulu pernah juga saya mengikuti lomba simulasi saham yang diadakan bursa efek surabaya.
Dari awal terjun saya sudah menggolongkan diri saya sebagai investor (kelas teri), bukan trader, pemilihan saham didasarkan oleh analisa fundamental dan saya pegang untuk waktu yang lama.
Minggu kemaren saya masih meyakini klasifikasi tersebut, ihsg walau fluktatif namun masih sempat mencatatkan rekor tertinggi, hingga akhirnya datanglah berita itu..
Amerika terancam default karena keinginan presiden menaikkan plafon hutang ditolak konggres, dan ternyata walaupun akhirnya kenaikan disetujui, penurunan peringkat amerika membuat seluruh bursa tumbang, beruang merajalela..
Dan sekarang, senin, setelah ihsg pada jum’at tergerus hebat, penantian mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya sangatlah mencekam, terbayang modal kecil yang akan semakin kecil bila indeks melanjutkan penurunannya..
Sebagian analis bilang bahwa kondisi ini hanyalah sementara saja, tapi siapa bisa jamin hal itu..
Akhirnya pilihan saya hanya dua, tetep bertahan (hold) atau jual rugi (cut loss).. *hmmm bagai berjalan dalam kegelapan..