beliau

Lama saya memandangi pp itu. Terbayang apa yang sudah beliau lewati hingga titik ini. Segala daya upaya diberikan untuk kami.
Seketika kenangan kenangan itu bermunculan. Mencoba menyelami kembali. Menggali kembali.
Saat itu musim mudik. Semua bis penuh. Penumpang yang belum mendapatkan bis menunggu di terminal. Setiap bis yang masuk terminal langsung disesaki penumpang, berjubel, berebutan untuk naik. Beliau menggotong saya, menaikkan saya ke bis melalui jendela..
Dini hari di tol. Saat tiba tiba saja mobil kami kehilangan tenaganya. Perlahan berjalan, keluar di pintu tol terdekat. Beliau turun, berjalan di depan mobil yang semakin pelan. Mencari bengkel, menyusuri jalan, sunyi, sepi..
Hari itu pembagian rapot. Pertama kalinya. Saya lihat beliau cerah sekali, berbinar. Antusias berdiskusi dengan rekan rekannya. Membicarakan angka yang tertulis di rapot. Saya sendiri tak terlalu mengerti, sibuk memikirkan libur yang sudah menanti..
Termenung sendiri, di ruang gelap terkunci. Buku yang dicari tidak ditemukan. Sementara besok tugas sudah harus dikumpulkan. Beliau marah, dan meminta saya masuk ruangan itu..
Duduk di meja yang sama. Tak henti hentinya beliau mengusap air mata yang mengalir. Prosesi ini sudah hampir selesai. Entah apa yang beliau pikirkan..
Kini beliau sudah tidak aktif lagi. Fasilitas yang diterima sudah tak lagi sama. Waktunya bagi kami untuk membantu. Walau tak akan pernah bisa menyamai apa yang beliau telah berikan bagi kami.
Whatever it takes..
At any cost..

solusi

Bukan sekedar menemukan masalah. Atau bahkan mencari cari masalah. Meneliti dengan seksama hanya untuk menemukan celah. Celah kecil yang bisa diangkat menjadi masalah. Menjelaskan dengan berapi api. Kemungkinan terburuk yang pasti terjadi. Masalah yang akan timbul dari suatu tindakan. Mencari kelemahan, sekecil apapun itu, untuk diungkap. Berupaya menemukan kelemahan, diangkat menjadi masalah. Sedemikian besarnya masalah hingga menjadi dalih untuk tidak berbuat apa apa. Bukan itu.
Berupaya melihat secara utuh. Mencoba segala sudut pandang. Menyelami maksud dari suatu tindakan. Meluaskan pandangan. Mengeliminir blind spot. Mendengar. Meresapi..
Berpikir sejenak. Tanpa bermaksud mengulur waktu. Mengakui adanya kelemahan. Menerima adanya masalah. Mencoba menganalisa situasi. Berupaya menemukan alternatif. Menawarkan solusi yang bisa ditempuh. Eksekusi.
Menyadari adanya resiko dari setiap tindakan. Tidak mengelak adanya kemungkinan masalah di kemudian hari. Berbuat, berupaya mencari solusi dari setiap masalah yang ada. Bukan mencari masalah tapi menawarkan solusi. Bukan menutupi masalah tapi berupaya menyelesaikan masalah.
Hasil akhir tidak akan pernah bisa dipastikan..
Masalah, solusi, tindakan, upaya terbaik, berserah diri.

komunikasi

Betapa seringnya suatu proses terhambat karena masalah komunikasi. Komunikasi yang buruk menyebabkan pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses gagal memahami kebutuhan ataupun keinginan rekannya. Efeknya proses tidak berjalan lancar sehingga membutuhkan waktu penyelesaian yang lebih lama atau bahkan melenceng dari tujuan.
Kegagalan komunikasi bisa juga dimulai dari keangkuhan sektoral. Keenganan untuk memulai. Perasaan superior dibanding yang lain, serta hilangnya rasa empati.
Jika saja seluruh bagian menempatkan kepentingan perusahaan diatas segalanya. Berupaya memandang dari sudut berbeda, memulai menawarkan solusi, serta mencairkan sekat-sekat sektoral. Tentunya tujuan akan lebih cepat tercapai, target terpenuhi, dan keberlanjutan usaha tetap terjaga.

program

Termenung membaca pertanyaan seorang penjual minyak wangi, “Punya program baru apa..”. Sejenak terdiam. Kembali berpikir.
Rutinitas ini telah menguras energi. Menghisap waktu yang ada. Menjalani hari hari, menyelesaikan tugas demi tugas.
Mau ngapain. Terus berlayar, jawaban itu yang mungkin bisa saya berikan kepada beliau.
Terus berlayar. Memberikan yang terbaik, memenuhi amanah. Mengembangkan potensi yang ada. He he klise.. Memang. Tidak ada ukuran pencapaian yang ingin dicapai.
Satu yang pasti adalah berupaya tetap istiqomah meniti jalan ini. Mempersiapkan menghadapi sesuatu yang pasti. Menuntut ilmu yang bermanfaat.
Berikut kutipan dari http://abufawaz.wordpress.com/2014/01/06/kita-semua-pasti-akan-mati-dan-berpindah-ke-alam-akhirat-yang-hakiki-nan-abadi/#more-1757
Sebagian orang bijak berkata: “Bagaimana bisa merasakan kegembiraan dengan dunia, orang yang perjalanan harinya menghancurkan bulannya, dan perjalanan bulan demi bulan menghancurkan tahun yang dilaluinya, serta perjalanan tahun demi tahun yang menghancurkan seluruh umurnya. Bagaimana bisa merasa gembira, orang yang umurnya menuntun dirinya menuju ajal, dan masa hidupnya menggiring dirinya menuju kematian.” (Lihat Jaami’ul ’Uluum wal-Hikam, karya Al-Hafizh Ibnu Rojab, hal. 483).

the day has come

Hari ini dibuka dengan kabar mengejutkan dari induk perusahaan. Seorang rekan mengalami musibah, putra beliau meninggal secara mendadak. Tampak jelas rasa kehilangan yang mendalam terpancar saat kami bertakziah. Begitu banyak kerabat yang mengikuti sholat dan mengantarkan ke pemakaman. Kembali saya mengikuti sholat jenazah. Kembali terbayang bagaimana nanti saat tiba waktunya bagi saya. Akankah suasananya seperti saat ini..
Putra beliau meninggal dalam usia muda. Mahasiswa, masih banyak cita yang belum tercapai. Begitu banyak rencana yang belum sempat disusun. Saya sudah bukan mahasiswa lagi. Bangku kuliah sudah lama sekali saya tinggalkan. Kenangan wisudapun hampir tak bersisa. Apakah kain kafan saya sudah selesai ditenun..
The day has come. Hari terakhir di dunia sudah dilewati oleh putra beliau. Kapan hari terakhir bagi saya tiba..