beliau

Lama saya memandangi pp itu. Terbayang apa yang sudah beliau lewati hingga titik ini. Segala daya upaya diberikan untuk kami.
Seketika kenangan kenangan itu bermunculan. Mencoba menyelami kembali. Menggali kembali.
Saat itu musim mudik. Semua bis penuh. Penumpang yang belum mendapatkan bis menunggu di terminal. Setiap bis yang masuk terminal langsung disesaki penumpang, berjubel, berebutan untuk naik. Beliau menggotong saya, menaikkan saya ke bis melalui jendela..
Dini hari di tol. Saat tiba tiba saja mobil kami kehilangan tenaganya. Perlahan berjalan, keluar di pintu tol terdekat. Beliau turun, berjalan di depan mobil yang semakin pelan. Mencari bengkel, menyusuri jalan, sunyi, sepi..
Hari itu pembagian rapot. Pertama kalinya. Saya lihat beliau cerah sekali, berbinar. Antusias berdiskusi dengan rekan rekannya. Membicarakan angka yang tertulis di rapot. Saya sendiri tak terlalu mengerti, sibuk memikirkan libur yang sudah menanti..
Termenung sendiri, di ruang gelap terkunci. Buku yang dicari tidak ditemukan. Sementara besok tugas sudah harus dikumpulkan. Beliau marah, dan meminta saya masuk ruangan itu..
Duduk di meja yang sama. Tak henti hentinya beliau mengusap air mata yang mengalir. Prosesi ini sudah hampir selesai. Entah apa yang beliau pikirkan..
Kini beliau sudah tidak aktif lagi. Fasilitas yang diterima sudah tak lagi sama. Waktunya bagi kami untuk membantu. Walau tak akan pernah bisa menyamai apa yang beliau telah berikan bagi kami.
Whatever it takes..
At any cost..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s