Bersiap dilupakan

Saya mendapatkan untaian kalimat ini saat diminta mengikuti rapat kinerja bulanan bersama boc. Pimpinan rapat saat itu, mantan orang nomer 1 di salah satu perusahaan besar mengucapkannya.
Make no legacy
Do your best
Prepare to be forgotten
Kisah pengantar dibalik untaian kalimat tersebut sungguh menggetarkan. Siklus yang mungkin pernah dirasakan oleh sebagian orang.
Bersiap untuk dilupakan..

Masih

All my best memories
Come back clearly to me
Some can even make me cry.
Just like before
It’s yesterday once more. (the carpenters)

Kembali ke kamar ini
Kamar terakhir yang beliau tempati
Kasur yang baru saja dibeli

Tetiba semuanya hadir kembali
Lintasan memori
Hadir mengisi relung hati

Berlatih sepeda bersama beliau
Berlari dibelakang hanya untuk memegangi sepeda
Teriakan gembira saat melihat sepeda berjalan seimbang

Mesin cuci pertama
Alarm yang disetel keras
Raut wajah puas saat jemuran sudah penuh sebelum matahari terbit

Vespa putih yang senantiasa menemani
Berdiri di depan menantang angin
Berlima bermain sirkus

Bangun dini hari
Mempersiapkan segalanya
Setiap hari setiap waktu

Tetiba
Semuanya mengalir
Lintasan lintasan itu
Pintu kebaikan yang kini telah tertutup

sepenggal kisah

Sekitar 01.00
Jelang dipindah ke icu
Penunggu pasien: “Pah, kk udah gak bisa nemenin papah lagi, papah mesti bisa sendiri, sabar, ikhlasin semuanya. Maapin kk ya. Terimakasih untuk semuanya.
Soal yyy nanti kita nikahin kalo memang sudah ada yang cocok.”
Terlihat buliran air mata di pelupuk mata pasien.
“Udah ya Pah, istigfar”
Membelai rambut pasien
“Ucapkan laa ilaaha illaa Alloh”
Telihat gerakan lidah pasien
Perawat berkemas, mendorong ranjang keluar ruang perawatan menuju icu
Penunggu pasien membereskan barang. Memindahkannya ke mobil. Kembali ke ruang perawatan yang telah kosong. Menikmati kesunyian ini.
Ada rasa kehilangan menyergap relung hati.
Meninggalkan ruang perawatan. Menuju ruang tunggu icu untuk menyambut kerabat yang baru tiba. Melakukan obrolan ringan nan singkat untuk kemudian menuju masjid. Beristirahat..
Sekitar 3.30
Seorang kerabat membangunkan penunggu pasien. Perawat di ruang icu membutuhkan penunggu pasien katanya.
Bergegas bangun, penunggu pasien menuju ruang icu, duduk sejenak untuk meneguk air minum di kursi yang tersedia di depan ruang icu.
Masuk ruang icu.
Terlihat dokter dan beberapa perawat sudah mengelilingi pasien.  Resusitasi (alat bantu pernafasan) sudah berada di mulut pasien. Salah seorang sudah menekan nekan dada pasien.
Penunggu pasien mendekati kepala pasien. Melirik indikator jantung. 0
Kembali membisikkan kalimat yang hampir 3 hari ini selalu menenemani. “Ucapkan laa ilaaha illaa Alloh”
Menunggu.
Terlihat indikator jantung kembali bergerak.
Sebentar saja.
Kembali hilang.
Akhirnya dokter berkata jantung pasien telah berhenti. Terdengan isak tangis dari kerabat yang ikut masuk ke ruang icu.
Meninggalkan pasien. Berbicara dengan suster di meja kontrol, menanyakan masalah administrasi. Keluar dari ruang icu.
Bertemu kerabat di ruang tunggu. Melakukan beberapa panggilan telpon dan wa untuk menginformasikan pasien telah tiada. Kemudian menuju masjid, menunggu sholat shubuh.
Air mata tak kuasa dibendung saat melakukan sholat.
Kembali ke ruang icu. Melihat pasien yang telah ditutupi kain. Penunggu pasien menyibaknya. Melihat wajah pasien. Sekitika perasaan gembira menyeruak. Wajah beliau sudah bersih, tidak ada lagi kerutan menahan sakit. Senyum tipis terlihat di sudut bibirnya..

Senewen

image

Jam 9.10 duduk rapih di salah satu ruang. Memenuhi surat panggilan. Tertulis jelas 9.30.
Jam 11.30 acara baru dimulai. Perangkat yang diperlukan akhirnya lengkap. 10 orang berjejer melakukan sumpah.
1 jam waktu yang diperlukan untuk 1 orang. 9 orang menunggu di luar. Lama menanti. Melawan jenuh.
Jam 14.30 kembali kami dikumpulkan. Waktu yang tersedia tidak cukup. Diminta kembali hadir di lain kesempatan.
Gombal. Sehari terbuang begitu saja. Senewen menunggu giliran yang tak jua tiba.