Definisi commuter berdasarkan oxford dictionaries adalah a person who travels some distance to work on a regular basis, sementara kamus bahasa indonesia mendefinisikan komuter sebagai ulang alik: pesawat jet — berkecepatan tinggi. Saya pikir lebih masuk definisi oxford daripada kamus bahasa indonesia dalam menjelaskan apa itu sebenarnya komuter.
Hampir 6 bulan saya meninggalkan dunia komuter, matahari pagi yang biasanya hanya bisa saya nikmati di perjalanan, saat ini bisa saya tunggu kehadirannya di rumah. Sholat maghrib berjamaah di musholla komplek rumah, yang dulu merupakan kemewahan, sekarang hampir tiap hari bisa saya nikmati. Alhamdulillah.
Terkadang kerinduan untuk menikmati suasana komuter timbul (he he kebiasaan buruk, saat dekat dibenci, saat jauh dirindukan :p). Rutinitas selama empat tahun ber-komuter ria memang sangat membekas.
Penugasan training ke ibukota membuka kesempatan untuk merasakan kembali suasana komuter. Pagi sekali saya sudah bersiap memulai aktivitas komuter satu hari. Mandi sebelum subuh, sarapan saat sahur dan pergi sebelum matahari terbit.
Tak seperti suasana di kota penyangga ibukota, aroma komuter kurang terasa disini, mungkin karena jarak yang terlalu jauh (hampir 100 km) sehingga komuter tak sebanyak di jabodetabek. Taksi – bis antar kota antar propinsi – bis kota – busway – mikrolet, lima moda transportasi saya gunakan pagi itu untuk mencapai lokasi training. 2 jam 30 menit saya tempuh, waktu yang normal untuk komuter, terkadang sebagian lokasi rumah yang masih di jakarta menghabiskan hingga 3 jam sekali jalan untuk mencapai kantornya (setiap hari! waktu pulang pergi rumah – kantor hampir menyamai waktu kerja).
Masih tersisa 35 menit sebelum acara dimulai, waktu yang cukup untuk menikmati menu rehat kopi yang disediakan panitia. Indahnya pagi ini, seindah kerinduan akan komuter yang telah terobati 🙂
Author: bayusubayu
I Like This Job
Seorang karyawan tentunya memiliki tugas yang tertuang dalam job description, begitu pula dengan saya. Namun ada beberapa tugas yang tidak tertuang dalam job desc yang terkadang harus diselesaikan, biasanya ini adalah pekerjaan tim yang anggotanya terdiri dari berbagai divisi. Terkadang pekerjaan seperti ini justru lebih menyita waktu dibandingkan pekerjaan rutin.
Salah satu pekerjaan non rutin yang sangat saya nikmati adalah bergabung dengan tim penyusun dokumen aplikasi malcolm baldrige.
Dokumen ini adalah potret kinerja perusahaan dengan mengunakan kriteria baldrige yang terdiri dari 7 kriteria (lebih lengkapnya bisa dilihat di situs NIST ataupun Indonesia Quality Award Foundation).
Ada beberapa faktor yang membuat saya enjoy di tim ini, diantaranya adalah interaksi yang sangat erat dengan senior leader dan leader perusahaan (prajurit seperti saya sangat jarang mendapat kesempatan seperti ini :p), diskusi maraton tiada henti, atau bahkan berbagi tawa kegelisahan menjelang fajar saat tenggat waktu semakin dekat.
Wisata kuliner selalu kami sempatkan dalam pengasingan kami agar stamina tetap terjaga (sengaja kami diasingkan agar pekerjaan rutin tak mengganggu proses penyusunan), menu favorit kami adalah kepiting telor saus padang. Sudah 5 tahun kami melewati proses ini, yang membuat kami saling mengenal satu sama lain. Entah apa yang ada dalam pikiran senior leader dan leader hingga mereka dengan komitmen tinggi tetap setia terlibat dalam proses ini.
Tenggat waktu penyerahan dokumen ini adalah bulan september setiap tahunnya, sehingga hampir 4 periode penyusunan menghampiri kami saat kami menjalani puasa romadhon.
Ada kepuasan tersendiri saat dokumen aplikasi berhasil kami rampungkan, saat dokumen itu kami cetak, hingga menunggu dokumen itu dijilid. Penyusunan dokumen aplikasi di musim kelima membawa korban, salah seorang senior leader kami terpaksa dirawat di rumah sakit, kemungkinan beliau tidak mampu menjaga staminanya tetap prima karena melewatkan menu kepiting telur saus padang dalam wisata kuliner kami musim itu he he (tenggat waktu yang sangat sempit memaksa kami meniadakan menu tersebut).
Setelah dokumen aplikasi kami serahkan ke Indonesia Quality Award (IQA) Foundation, proses selanjutnya adalah menantikan on desk assesment dan on site assessment oleh para examiner. Hingga akhirnya sampailah kepada tahap akhir yaitu Awarding IQA, yang merupakan pengumuman hasil pemeriksaan yang biasanya dirangkai dengan seminar.
Masih terbayang perasaan cemas menjelang pengumuman itu, suhu ballroom hotel yang sudah dingin menjadi semakin dingin, namun keringat menetes dan detak jantung semakin cepat.
Alhamdulillah kami berhasil melampaui target yang ditetapkan, menembus band good performance. Perasaan puas, haru, membaur jadi satu. Senyum terkembang mewarnai wajah ceria kami. Tuntas sudah musim kelima kami, berakhir sudah tugas tim kami, pengetahuan baru kembali saya serap dari senior leader dan leader. Terimakasih tak terkira buat mereka yang tergabung dalam tim, totalitas, antusias, dan komitmen yang akan selalu saya ingat. Tahun depan mungkin tidak akan pernah sama lagi..
Pesta Wirausaha TDA 2012
Alhamdulillah, minggu lalu saya berkesempatan mengikuti Pesta Wirausaha yang diselenggarakan oleh komunitas tangan di atas (@tangandiatas). Inilah rangkaian acara yang menurut saya sangat spektakuler dengan biaya kepesertaan sangat murah jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh.
Pesta Wirausaha merupakan rangkaian acara yang terdiri dari seminar, expo, dan klinik bisnis. Rangkaian acara ini diselenggarakan tanggal 28 – 29 Januari 2012 di gedung Smesco Jakarta. Terimakasih kepada panitia penyelenggara Pesta Wirausaha TDA 2012 yang berhasil mengumpulkan pembicara berkelas dalam 1 acara.
Terus terang baru kali ini saya menghadiri seminar yang pembicaranya mulai dari awal hingga akhir merupakan tokoh nasional, mulai dari Chairul Tanjung, Dahlan Iskan, Jamil Azzaini, Sandiaga Uno, Heppy Trenggono, Merry Riana, Joko Widodo, Nukman Lutfie, dan beberapa pembicara lainnya hadir disini. Begitu banyak pencerahan yang saya dapatkan, sedemikian cerahnya hingga mampu membangkitkan keinginan saya untuk membuat kapal (kenapa membuat kapal akan saya uraikan di tulisan berikutnya, insyaAlloh).
Waktu berlalu begitu cepat saat para pembicara menyampaikan gagasannya, bahkan kantuk yang biasanya mengganggu konsentrasi saya sama sekali tidak hadir 2 hari itu ^_^
Tangan di atas merilis informasi bahwa peserta yang hadir di seminar ini mencapai 1800 orang dari berbagai daerah.
Belum seminggu berlalu, untaian kata para pembicara itu belum juga lekang dari ingatan, namun tweet dari @tangandiatas menyebutkan bahwa persiapan Pesta Wirausaha TDA 2013 sudah dimulai (woow, semoga sukses buat panitia).
Ada benang merah yang disampaikan dan akan selalu saya ingat, diantaranya adalah: tidak ada kesuksesan instan, semua berawal dari upaya kecil, target jangka panjang, usaha yang terus menerus, istiqomah, pantang menyerah, serta jatuh dan bangun yang akan selalu mewarnai. Siapa yang selalu mampu bangun dari jatuhnya, merekalah yang berhasil. Semoga kita semua dapat mewujudkannya dalam kehidupan kita.
culture shock
Perbedaan sifat antara bisnis pengelolaan gedung dan perhotelan tak pelak membuat saya tergopoh-gopoh. Bisnis pengelolaan gedung bisa dikatakan sebagai bisnis yang statis, penghuni gedung relatif tetap, jangka waktu sewa yang lama (umumnya lebih dari 1 tahun), dan pemenuhan kebutuhan operasional pengelolaan gedung yang relatif tetap, tidak banyak berubah baik dari jenis maupun kuantitas. Transaksi di gedung merupakan transaksi bulanan atau bahkan tahunan. Sementara di hotel sangat dinamis, konsumen yang dihadapi selalu berbeda, dengan kebutuhan berbeda pula. Setiap hari selalu ada tamu baru, transaksi baru, dan pemenuhan kebutuhan operasional hotel yang hampir setiap hari timbul, tak jarang lebih dari 3 kali perhari. Transaksi di hotel adalah transaksi harian.
Setelah 4 tahun berkutat di keuangan pengelolaan gedung, hari hari awal di perhotelan dipenuhi dengan lintasan pikiran bagaimana pejabat sebelumnya membagi waktunya. Hampir setiap jam (menit?) muncul dokumen baru yang perlu diverifikasi, secara prinsip sebenarnya tidak ada perbedaan antara lingkup tugas saya di pengelolaan gedung dan di hotel, sehingga mestinya tidak ada kekagetan berlebih terhadap tugas yang dijalankan. Namun yang membuat saya terengah-engah beradaptasi dengan tugas baru saya adalah frekwensi transaksi yang luar biasa jomplang, dan jauh diatas perkiraan saya. Sebagai gambaran, proses verifikasi account payable di gedung sekitar 70 – 90 dokumen perbulan, sementara di hotel 30 – 40 dokumen sudah antri minta diverifikasi setiap harinya. Lonjakan yang sama terjadi pula pada dokumen cash receipt, account receivable, general journal, dan tentunya cash disburshment yang selalu beriringan dengan ap.
Membludaknya dokumen yang segera harus diverifikasi maupun diapprove, lingkup kerja baru, serta rekan kerja baru membuat saya mengalami culture shock. Sambil terus berpikir bagaimana menata waktu untuk mengimbangi load pekerjaan, saya pun harus segera menemukan siasat supaya tidak tenggelam dalam rutinitas clerikal dan melupakan lingkup strategis…
last trip
Hari ini adalah perjalanan terakhir saya dengan commuter line (comlin), kereta yang kehadirannya diratapi penumpang pakuan ekspress. Comlin yang telah menghapus pakuan dari daftar perjalanan.
Berdiri sepanjang perjalanan (terkadang dengan gaya burung bangau *satu kaki tidak menapak lantai akibat sesaknya kereta), peluh bercucuran laksana di sauna, dan himpitan saat turun menjadi santapan sehari-hari.
2 bulan sudah comlin menempa kaum komuter, sejak kemunculannya sudah banyak keluhan, teriakan atau bahkan ratapan terhadap kondisinya. Namun lama kelamaan segala keberatan itu hanya terdengar sayup saja. Mungkin para komuter sudah pasrah, jenuh, atau imun terhadap tekanan perjalanan comlin.
Kaum komuter hanya bisa menghibur diri sambil berharap kereta lekas sampai. Tulisan ini pun dibuat saat bergelantungan di comlin..




