BlackBerry

20130912-111849.jpg

gambar di atas saya dapat dari akun @brilliant_Ads

Pertama kali saya mengenal BlackBerry di tahun 2007. Seorang teman telah menggunakannya saat kami bertemu, tak lama setelah saya dipindahkan ke ibu kota. Desainnya yang simple langsung menarik minat saya.
Saat itu pesan instant yang banyak digunakan adalah yahoo messenger. Fasilitas ini sangat membantu saya dalam berdiskusi dengan teman teman di kantor pusat. Ternyata ym berfungsi dengan baik di BlackBerry. Saya dapat terus berkomunikasi tanpa harus terpaku di depan PC. Fitur lain yang juga saya rasakan sangat bermanfaat adalah push email. Menerima dan mengirim email dapat dilakukan semudah ber-sms.
Tak butuh waktu lama bagi BlackBerry untuk mewabah. Hampir di semua fasilitas umum orang orang sibuk sendiri dengan BBnya. Di kereta, bis, stasiun, bahkan jembatan penyebrangan, semua asik memandangi layar kecil ditangannya. Mendadak seluruh hp mengikuti model BB.
Kini wabah itu sudah usai. Perlahan BB mulai ditinggalkan. Dulu orang dengan bangganya menempel stiker BB di kaca mobil. Namun kini stiker itu mungkin telah berganti dengan robot hijau ataupun apel yang sudah digigit. Semua ada masanya, 3 model BB hadir bergantian menemani hari hari saya. Akankah kebersamaan ini segera berakhir…

senior

Kembali lagi saya berkesempatan menghadiri rapat dengan induk perusahaan. Rapat kali ini diselenggarakan di pusat pendidikan dan pengembangan. Fasilitas yang dikelola oleh subdit perencanaan dan pengembangan modal insani.
Terpaku pandangan saya pada sosok senior di tengah meja. Sepanjang rapat beliau tekun menulis, sepertinya mencatat diskusi yang berlangsung. Sesekali beliau memantau daftar hadir yang beredar, mengambilnya untuk mengantar menyebrang sisi meja.
Kemungkinan beliau sudah menjelang pensiun, dengan masa kerja lebih dari 20 tahun. Masa kerja yang sebagian besar dihabiskan di level staf. Menyelesaikan tugas tugas rutin.

Keliru

Keliru. Terkadang perbuatan ataupun keputusan yang kita lakukan mengandung kekeliruan. Kekeliruan yang mungkin kita tak pernah menyadarinya saat itu terjadi. Kekeliruan yang mungkin baru terungkap setelah beberapa tahun kemudian. Kekeliruan yang ternyata saat terungkap berakibat fatal.
Semakin saya memahami fungsi jabatan ini, semakin nyata resiko yang melekat padanya. Hampir tidak ada toleransi terhadap kekeliruan. Satu kekeliruan dapat menimbulkan efek berantai yang akibatnya sungguh diluar dugaan.
Hari hari terus berlalu. Tanpa pernah kita sadari bahwa pekerjaan yang kita selesaikan mungkin mengandung kekeliruan. Meningkatkan kewaspadaan, memperluas sudut pandang, serta berupaya tetap cermat dalam menyelesaikan suatu tugas.
Berupaya mengeliminir kekeliruan, hanya itu yang bisa saya lakukan. Namun kalaupun kekeliruan itu tetap terjadi, maka yang bisa dilakukan adalah berdiri tegak mengakui hal itu, tanpa perlu menyalahkan pihak lain. Meminta maaf dan menerima segala konsekwensi dari kekeliruan yang terjadi.

Siklus

Tumbuh, berkembang, stagnan, menurun, dan hilang. Siklus yang acap kali terulang. Selalu muncul produk baru, tenar, hingga akhirnya digantikan oleh produk selanjutnya. Hampir tidak ada yang tidak tergantikan.
Pembelian Nokia oleh Microsoft minggu lalu akhirnya mengakhiri perjalanan Nokia. Perusahaan yang berhasil berkembang dari pabrik kertas di awal pendiriannya pada tahun 1871, menjadi penguasa 40% pangsa pasar handphone di tahun 2008. Sejak itu pangsa pasar Nokia terus turun, hingga hanya mencapai 14% saja. (Sumber http://www.theguardian.com/world/2013/sep/06/microsoft-nokia-finns-mourn-fame)
Salah satu penyebab hilangnya dominasi Nokia adalah Blackberry yang diproduksi oleh Research In Motion (RIM). Model qwerty keyboardnya pernah sangat populer hingga menjadi inspirasi pabrikan yang lain untuk menirunya. RIM sempat menjadi most valuable company di Canada berdasarkan nilai kapitalisasi pasar pada tahun 2007 (sumber: http://www.cbc.ca/news/interactives/timeline-rim/index.html). Namun kejayaan itupun tak berlangsung lama. RIM, yang kini berganti nama menjadi Blackbery, sudah mengumumkan rencana penjualannya.
Tumbuh, tenar, hingga akhirnya menghilang. Semua ada masanya. Seberapa lama satu siklus berlalu, tidak ada yang bisa memastikannya.

Berhenti Sejenak

Rapat, permintaan data, analisa, verifikasi, dan tenggat waktu. Semua itu terus berputar mengelilingi hari hari saya. Pagi, siang, dan sore dihabiskan untuk menuntaskannya.
Di rumah, terkadang pikiran saya masih berkutat dengan tugas yang belum tuntas. Week day, week end, tak terasa tugas tugas itu masih juga menemani. Hari hari berlalu sering dengan tugas yang terus bergulir.
Tanggung jawab yang semakin besar menuntut waktu yang semakin banyak pula. Sementara total waktu dalam sehari tidak bisa ditambah. Mengalokasikan waktu yang ada untuk seluruh kebutuhan, hanya itu yang bisa dilakukan. Penambahan alokasi untuk satu kebutuhan akan mengurangi alokasi waktu untuk kebutuhan lainnya.
Menukar waktu yang lain untuk waktu kerja. Sedikit demi sedikit alokasi waktu untuk kegiatan lain berkurang. Awalnya sedikit, lama lama semakin banyak, hingga tak terasa kegiatan kegiatan lain tak bisa lagi dilakukan karena tak tersisa lagi waktu.
Di titik ini saya tersadar. Berhenti sejenak. Merenungkan kembali. Menata kembali prioritas.
Kembali mencoba menyeimbangkan alokasi waktu, sambil terus meningkatkan kompetensi diri. Jangan sampai waktu terbuang hanya karena kurangnya kompetensi.