I Will Survive

Petualangan menjadi komuter diawali dengan terbitnya surat keputusan untuk bertugas di bisnis pengelolaan gedung Jakarta. Setelah sempat terkatung-katung selama 6 bulan SK itu terbitlah juga. Rumor itu mulai muncul di bulan kedua tahun 2007, dan baru terealisir di bulan kedelapan.
Hari pertama di tempat kerja baru langsung mencatatkan rekor yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, jam menunjukkan pukul 9:40, berarti saya terlambat hampir 2 jam. Namun seiring perjalan waktu, akhirnya saya menyadari bahwa keterlambatan menjadi hal yang biasa bagi komuter (tanpa bermaksud membela diri he he), mulai dari 30 menit, hingga lebih dari 2 jam pernah saya alami. Akibat rekor buruk ini, nama saya selalu terpampang di daftar teratas akumulasi keterlambatan, dan pernah mendapatkan complain langsung dari orang nomor 2 di perusahaan ╮(“╯_╰)╭
Romadhon 1428 menjadi pengalaman pertama saya menjalani puasa sebagai komuter, melaksanakan sholat maghrib di masjid jami + takjil kemudian melanjutkan perjalanan, transit ganti angkot, mampir di masjid lain untuk sholat isya sebelum akhirnya sampe rumah sekitar jam 20. 5 tahun romadhon saya lalui dengan beraneka moda tranportasi.
Menjadi komuter adalah salah satu fase tersulit dalam perjalanan hidup saya. Begitu banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Perjalanan ke kantor yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu 10 menit melonjak hingga 12x lipat, hampir 2 jam sekali jalan, itupun masih dengan catatan perjalanan lancar, tidak ada macet, kerusakan sinyal, ataupun kereta mogok. Berdiri sepanjang perjalanan dalam kereta yang penuh sesak, terkadang hanya dengan satu kaki karena begitu terbatasnya ruangan yang tersedia. Mandi sauna gratis dalam kereta ekonomi, tanpa perlu berpegang tangan saking sesaknya gerbong. Stuck dalam kereta hingga 2 jam karena kerusakan sinyal, kecelakaan kereta ataupun ataper (sebutan bagi penumpang gelap yang berada di atap kereta) yang tersengat listrik. Terjebak dalam antrian yang mengular menantikan busway, ataupun berhenti total di jagorawi.
Komuter jelas telah membentuk saya menjadi seorang yang lebih tangguh, jam sibuk pergi & pulang kantor sejauh 50 km telah saya lalui he he.., tak semua karyawan mendapatkan kesempatan untuk merasakan ini. Salah satu posisi yang dahulu saya anggap paling mengerikan di tempat saya bekerja adalah ditugaskan di jakarta, dan Alhamdulillah hal itu sudah saya lalui.
Saat ini kembali rumor melanda, ketidakpastian kembali menyeruak saat pertanyaan serupa kembali dilontarkan oleh manajemen, “Bersediakah Anda ditempatkan di…?” dan jawaban saya pun tetap sama. 3 bulan berlalu dan belum ada apapun yang terjadi, dan jika memang itu harus saya lakukan, sebagai karyawan saya akan senang hati menerima tantangan tersebut. Bekerja di tempat yang baru, suasana baru, dengan atasan ekspatriat yang sudah terkenal akan etos kerjanya yang luar biasa. Kesulitan pasti ada, namun seperti kisah terdahulu pasti ada jalan untuk melalui semua itu. I will survive.. InsyaAlloh.

Disana Hatiku Terpaut

9 jam sudah saya meninggalkan kota ini, 4 hari kunjungan yang sungguh meninggalkan berjuta kesan..
Masjid yang selama ini hanya dapat saya impikan akhirnya benar-benar nyata dihadapan. Suasana yang tak kan pernah saya lupakan, dini hari 4 Maret 2012 akan selalu terpatri dalam ingatan.
Terbaring kini saya di sudut hotel kota yang berbeda, dalam isakan tangis, meredam kerinduan tak terkira terhadap kota itu, berharap bisa segera berjumpa kembali..

Commuter

Definisi commuter berdasarkan oxford dictionaries adalah a person who travels some distance to work on a regular basis, sementara kamus bahasa indonesia mendefinisikan komuter sebagai ulang alik: pesawat jet — berkecepatan tinggi. Saya pikir lebih masuk definisi oxford daripada kamus bahasa indonesia dalam menjelaskan apa itu sebenarnya komuter.
Hampir 6 bulan saya meninggalkan dunia komuter, matahari pagi yang biasanya hanya bisa saya nikmati di perjalanan, saat ini bisa saya tunggu kehadirannya di rumah. Sholat maghrib berjamaah di musholla komplek rumah, yang dulu merupakan kemewahan, sekarang hampir tiap hari bisa saya nikmati. Alhamdulillah.
Terkadang kerinduan untuk menikmati suasana komuter timbul (he he kebiasaan buruk, saat dekat dibenci, saat jauh dirindukan :p). Rutinitas selama empat tahun ber-komuter ria memang sangat membekas.
Penugasan training ke ibukota membuka kesempatan untuk merasakan kembali suasana komuter. Pagi sekali saya sudah bersiap memulai aktivitas komuter satu hari. Mandi sebelum subuh, sarapan saat sahur dan pergi sebelum matahari terbit.
Tak seperti suasana di kota penyangga ibukota, aroma komuter kurang terasa disini, mungkin karena jarak yang terlalu jauh (hampir 100 km) sehingga komuter tak sebanyak di jabodetabek. Taksi – bis antar kota antar propinsi – bis kota – busway – mikrolet, lima moda transportasi saya gunakan pagi itu untuk mencapai lokasi training. 2 jam 30 menit saya tempuh, waktu yang normal untuk komuter, terkadang sebagian lokasi rumah yang masih di jakarta menghabiskan hingga 3 jam sekali jalan untuk mencapai kantornya (setiap hari! waktu pulang pergi rumah – kantor hampir menyamai waktu kerja).
Masih tersisa 35 menit sebelum acara dimulai, waktu yang cukup untuk menikmati menu rehat kopi yang disediakan panitia. Indahnya pagi ini, seindah kerinduan akan komuter yang telah terobati 🙂

I Like This Job

Seorang karyawan tentunya memiliki tugas yang tertuang dalam job description, begitu pula dengan saya. Namun ada beberapa tugas yang tidak tertuang dalam job desc yang terkadang harus diselesaikan, biasanya ini adalah pekerjaan tim yang anggotanya terdiri dari berbagai divisi. Terkadang pekerjaan seperti ini justru lebih menyita waktu dibandingkan pekerjaan rutin.
Salah satu pekerjaan non rutin yang sangat saya nikmati adalah bergabung dengan tim penyusun dokumen aplikasi malcolm baldrige.
Dokumen ini adalah potret kinerja perusahaan dengan mengunakan kriteria baldrige yang terdiri dari 7 kriteria (lebih lengkapnya bisa dilihat di situs NIST ataupun Indonesia Quality Award Foundation).
Ada beberapa faktor yang membuat saya enjoy di tim ini, diantaranya adalah interaksi yang sangat erat dengan senior leader dan leader perusahaan (prajurit seperti saya sangat jarang mendapat kesempatan seperti ini :p), diskusi maraton tiada henti, atau bahkan berbagi tawa kegelisahan menjelang fajar saat tenggat waktu semakin dekat.
Wisata kuliner selalu kami sempatkan dalam pengasingan kami agar stamina tetap terjaga (sengaja kami diasingkan agar pekerjaan rutin tak mengganggu proses penyusunan), menu favorit kami adalah kepiting telor saus padang. Sudah 5 tahun kami melewati proses ini, yang membuat kami saling mengenal satu sama lain. Entah apa yang ada dalam pikiran senior leader dan leader hingga mereka dengan komitmen tinggi tetap setia terlibat dalam proses ini.
Tenggat waktu penyerahan dokumen ini adalah bulan september setiap tahunnya, sehingga hampir 4 periode penyusunan menghampiri kami saat kami menjalani puasa romadhon.
Ada kepuasan tersendiri saat dokumen aplikasi berhasil kami rampungkan, saat dokumen itu kami cetak, hingga menunggu dokumen itu dijilid. Penyusunan dokumen aplikasi di musim kelima membawa korban, salah seorang senior leader kami terpaksa dirawat di rumah sakit, kemungkinan beliau tidak mampu menjaga staminanya tetap prima karena melewatkan menu kepiting telur saus padang dalam wisata kuliner kami musim itu he he (tenggat waktu yang sangat sempit memaksa kami meniadakan menu tersebut).
Setelah dokumen aplikasi kami serahkan ke Indonesia Quality Award (IQA) Foundation, proses selanjutnya adalah menantikan on desk assesment dan on site assessment oleh para examiner. Hingga akhirnya sampailah kepada tahap akhir yaitu Awarding IQA, yang merupakan pengumuman hasil pemeriksaan yang biasanya dirangkai dengan seminar.
Masih terbayang perasaan cemas menjelang pengumuman itu, suhu ballroom hotel yang sudah dingin menjadi semakin dingin, namun keringat menetes dan detak jantung semakin cepat.
Alhamdulillah kami berhasil melampaui target yang ditetapkan, menembus band good performance. Perasaan puas, haru, membaur jadi satu. Senyum terkembang mewarnai wajah ceria kami. Tuntas sudah musim kelima kami, berakhir sudah tugas tim kami, pengetahuan baru kembali saya serap dari senior leader dan leader. Terimakasih tak terkira buat mereka yang tergabung dalam tim, totalitas, antusias, dan komitmen yang akan selalu saya ingat. Tahun depan mungkin tidak akan pernah sama lagi..

Pesta Wirausaha TDA 2012

Alhamdulillah, minggu lalu saya berkesempatan mengikuti Pesta Wirausaha yang diselenggarakan oleh komunitas tangan di atas (@tangandiatas). Inilah rangkaian acara yang menurut saya sangat spektakuler dengan biaya kepesertaan sangat murah jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh.
Pesta Wirausaha merupakan rangkaian acara yang terdiri dari seminar, expo, dan klinik bisnis. Rangkaian acara ini diselenggarakan tanggal 28 – 29 Januari 2012 di gedung Smesco Jakarta. Terimakasih kepada panitia penyelenggara Pesta Wirausaha TDA 2012 yang berhasil mengumpulkan pembicara berkelas dalam 1 acara.
Terus terang baru kali ini saya menghadiri seminar yang pembicaranya mulai dari awal hingga akhir merupakan tokoh nasional, mulai dari Chairul Tanjung, Dahlan Iskan, Jamil Azzaini, Sandiaga Uno, Heppy Trenggono, Merry Riana, Joko Widodo, Nukman Lutfie, dan beberapa pembicara lainnya hadir disini. Begitu banyak pencerahan yang saya dapatkan, sedemikian cerahnya hingga mampu membangkitkan keinginan saya untuk membuat kapal (kenapa membuat kapal akan saya uraikan di tulisan berikutnya, insyaAlloh).
Waktu berlalu begitu cepat saat para pembicara menyampaikan gagasannya, bahkan kantuk yang biasanya mengganggu konsentrasi saya sama sekali tidak hadir 2 hari itu ^_^
Tangan di atas merilis informasi bahwa peserta yang hadir di seminar ini mencapai 1800 orang dari berbagai daerah.
Belum seminggu berlalu, untaian kata para pembicara itu belum juga lekang dari ingatan, namun tweet dari @tangandiatas menyebutkan bahwa persiapan Pesta Wirausaha TDA 2013 sudah dimulai (woow, semoga sukses buat panitia).
Ada benang merah yang disampaikan dan akan selalu saya ingat, diantaranya adalah: tidak ada kesuksesan instan, semua berawal dari upaya kecil, target jangka panjang, usaha yang terus menerus, istiqomah, pantang menyerah, serta jatuh dan bangun yang akan selalu mewarnai. Siapa yang selalu mampu bangun dari jatuhnya, merekalah yang berhasil. Semoga kita semua dapat mewujudkannya dalam kehidupan kita.