ditunggu 242

Jun 20, ’09 7:59 AM

242 merupakan nomer kereta yang selalu membawaku kembali ke bogor setelah seharian kerja. Berangkat dari stasiun sudirman pukul 15:21.
Jika jam kerja normal berakhir 14:30 maka tersedia waktu 51 menit untuk mencapai sudirman. Jika tenggat waktu terlewat, maka bersiaplah menunggu hingga jam 19:25, saat 252 berangkat.
Dalam kondisi lalu lintas lancar 51 menit untuk mencapai sudirman bukanlah masalah besar, namun jalur gatsu – sudirman merupakan jalur rawan macet. Tak pelak setiap hari merupakan saat-saat mendebarkan, berpacu dengan waktu, sanggupkah 640 mengantarku ke sudirman dalam tenggat waktu tersebut..

mengejar 205

Jun 14, ’09 12:30 AM

KAI Commuter Jakarta punya cara yang aneh dalam memarkir keretanya. Tidak pernah ada susunan yang sama setiap harinya. Hal ini membuat penumpang selalu bertanya-tanya di jalur berapa kereta mereka diparkir setiap paginya, akibatnya petugas stasiun menjadi narasumber yang slalu diharapkan. Kebingungan itu tidak hanya dialami oleh penumpang, terkadang petugas pun bingung dan memberikan informasi yang salah.
Informasi yang salah dari petugas menimpa para penumpang pagi ini. Saat ditanya dimana kereta ke tanah abang mereka menjawab masih di depo. Dengan semangat kudatangi depo, kulihat serombongan penumpang menuju kesana. Sudah terbayang gerbong kereta kosong yang menanti. Setibanya di depo, ternyata ada banyak kereta yang parkir. Kutanya kembali kepada petugas depo, dimanakah kereta ke tanah abang agar tidak terbawa ke tempat yang salah, dia menjawab bahwa kereta sudah stand by di jalur 5. Omg! Kuhabiskan 200 meter hanya untuk mendapatkan kepastian bahwa kereta sudah di jalur 5. Dengan gontai aku berbalik menuju jalur 5, berarti 400 meter jarak kutempuh sudah, dan aku tidak sendiri. Penumpang lainpun sama kecelenya.
Kudapati pakuan 205 di jalur 5, untung masih terdapat kursi kosong di kereta itu. Kalau saja semua kursi sudah penuh pasti petugas yang salah memberikan informasi sudah mendapatkan sarapan berupa hujatan dari penumpang yang merasa tertipu..

jalur baru

Jun 13, ’09 10:38 AM

Sejak ditutupnya uki, segalanya berubah. Tidak ada lagi bis bogor uki, 46, ataupun p6. Selamat tinggal penitipan motor damri.
Jalur kerja praktis berubah, tidak lagi menuju selatan. Jalur baru itu menuju ke barat, dimana stasiun berada.
Kereta rel listrik menjadi sahabat setia kini, pengantar pulang pergi menuju jakarta. 46 berganti menjadi 640, dropzone uki menjadi stasiun sudirman.
Waktu tempuh dan biaya bertambah, dan yang paling menyebalkan adalah hilangnya kebebasan. Bis selalu tersedia kapanpun juga, kesiangan ataupun kepagian tidak pernah menjadi masalah. Kereta? Jadwal sudah ditentukan, jangan harap bebas memilih, kesiangan sedikit saja terancam menunggu keberangkatan selanjutnya, itupun jika masih tersedia.
Namun semua tetap harus dijalani, kuatkan dirimu sobat..

tinggal kenangan

May 29, ’09 2:16 AM

Masa-masa indah itu masih berbekas dalam ingatan. Saat bis-bis yang akan menuju uki berbaris rapi menunggu giliran. Tak sampai 10 menit penumpang sudah memenuhi bis, dan bis segera berangkat.
Pagi ini pemandangan itu tak lagi kujumpai, tidak ada lagi bis yang bergegas pergi, seiring dengan penumpang yang antusias menaiki bis. Suasana terminal menjadi hambar. Masih banyak terlihat wajah bingung penumpang, berpikir keras menentukan bis pengganti.
Akhirnya kuputuskan untuk mencoba bis kalideres, bis masih kosong, lama menanti, namun bis tak kunjung penuh. Setengah jam berlalu, justru pengamen yang naik, menyanyikan 2 buah lagu. Biasanya dalam waktu 30 menit bis uki sudah melewati cibubur, tapi didalam bis ini bahkan belum terlihat supir yang akan mengemudikannya!
Kuputuskan bahwa jalur kalideres tak bisa diandalkan untuk membawaku ke tempat kerja.
Entah jalur mana lagi yang akan kucoba, yang pasti uki hanya tinggal kenangan..

uki yang hilang

May 27, ’09 10:50 PM

Mimpi buruk itu menjadi kenyataan. Setelah sebelumnya hanya sekedar isyu, mulai rabu 27 mei uki benar-benar tertutup bagi bis akap.
Akibatnya ribuan penumpang terlantar. Bertumpuk memadati jalan yang biasa dilalui oleh bis setianya. Terbayang warna putih biru laju utama, merahnya argamas yang selalu melintas untuk menjemput para komuter.
Esoknya kehebohan menjalar ke terminal baranangsiang bogor, dua armada bis menutup pintu keluar terminal. Semua bis mogok, menentang peraturan dishub dki yang melarang akap memasuki uki.
Peraturan yang terbit hanya karena bis akap dianggap sebagai pemicu kemacetan di daerah uki. Sebuah peraturan yang terlalu menyederhanakan masalah. Apakah dengan dilarangnya bis akap masuk uki secara otomatis membebaskan uki dari kemacetan. Entahlah. Yang jelas peraturan itu telah menyusahkan ribuan orang.
Para pekerja komuter harus menghitung ulang anggaran transportasi dan waktu tempuh yang akan bertambah. Ratusan tukang ojek, pedagang asongan, warung makan terancam kehilangan pasarnya. Belum lagi pengusaha bis serta crewnya yang paling terpukul atas peraturan ini, 90% penumpang yang naik bis tujuannya adalah turun di uki! Dengan ditutupnya uki, dipastikan bis akan kosong melompong. Dan kebangkrutan tinggal menunggu waktu saja.
Sebagai karyawan komuter saya hanya bisa tersenyum kecut,sambil membayangkan apa yang dipikirkan para pembuat keputusan ini…