Hilang

Reboot. Restart. Terus berputar. Home screen yang ditunggu tak pernah tiba.
Cabut batre. Cabut sim card. Cabut memory card. Semua seakan percuma. Saat layar kecil itu kembali menampilkan loading sistem.
Ketakutan akan hilangnya data mulai mencuat. Kebiasaan back up data yang kerap dilupakan seiring pemanfaatan media penyimpanan awan, cloud. Berharap service center resmi mampu menampilkan kembali data itu.
Harapan sirna tak lama setelah mengunjungi service center. Petugas yang ditemui tidak memiliki solusi untuk menampilkan data itu. Hanya mampu mengatakan perkiraan lamanya rawat inap. 2 bulan tanpa kejelasan data kembali. Thanks but no thanks.
Tampaknya kehilangan data akan segera menjadi kenyataan. Nomor telpon, catatan kajian, agenda kegiatan selama hampir 2 tahun ini akan lenyap. Cukup sudah menyimpan di media internal. Media penyimpanan awan akan menjadi pilihan.

ke sini lagi

Kembali kesini. Kota tempat saya dilahirkan. Kota yang dulu begitu akrabnya. Kota yang dulu menjadi satu satunya tujuan saat lebaran tiba.
Pertengahan tahun sembilan puluhan. 3 tahun saya habiskan di kota ini untuk menamatkan sekolah menengah. 2 trayek angkutan kota membawa saya setiap harinya. Turun di perapatan ijen untuk transit. Menyusuri jalan pungkur. Menunggu angkot berikutnya.
Menyusuri jalur ini membuka kembali ingatan lama. Saat saat berjibaku mempersiapkan umptn. Menghabiskan hari di sekolah dan bimbel. Semuanya saat ini terlihat begitu sederhana..

sendirian di ketinggian

Suasana pertemuan pagi ini begitu membekas. Belum pernah saya mendapatkan beliau dalam posisi ini. Aura kelelahan, kecewa, dan geram tampak mendominasi pengarahannya.
Posisi yang sungguh sulit. Bahkan sekedar untuk membayangkannya. Beberapa persoalan besar yang harus segera diselesaikan selalu menemani hari hari beliau.
Sendirian di ketinggian. Semakin tinggi tanggung jawab. Semakin berat beban dirasa. Semakin sedikit yang bisa diceritakan. Semakin sedikit waktu untuk berbagi. Semua ditanggung sendiri. Sendirian di ketinggian..

masih tersisa

Dua periode sudah berlalu. Finalisasi report hampir usai. Pemeriksa sudah ditarik.
Persoalan ini belum juga tuntas. Seluruh kemampuan dicurahkan sudah demi terwujudnya hal ini. Namun efeknya masih tersisa hingga kini.
Seluruh kemampuan kembali dikerahkan. Untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Menyelesaikan hingga benar benar selesai..

chartered accountant

tulisan ini bersumber dari Majalah Akuntan Indonesia edisi Maret 2014

Chartered Accountant menjadi tema utama edisi kali ini. Cover depan majalah ini hanya menampilkan inisial CA dalam ukuran besar, disertai watermark chartered accountant.
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 25/PMK.01.2014 tentang Akuntan Beregister Negara telah terbit pada Februari 2014 lalu. PMK 25/2014 merupakan turunan Undang undang nomor 34 tahun 1954 tentang pemakaian gelar akuntan. PMK ini akan segera diikuti oleh keputusan menteri keuangan yang akan menetapkan wadah asosiasi profesi akuntan.
PMK 25/2014 mewajibkan akuntan yang telah memiliki register negara (pemegang gelar Ak) untuk mendaftar ulang. Tenggat waktu yang diberikan adalah sampai dengan tahun 2017. Sementara untuk lulusan perguruan tinggi non ujian nasional akuntansi (UNA) sebelum 2004, lulusan UNA dasar dan UNA profesi sebelum 2004, serta lulusan pendidikan profesi akuntan, tenggat waktu registrasi adalah sampai 31 Desember 2014.
Menarik untuk terus mencermati perkembangan ini. Tantangan pengembangan diri terbentang luas. Bersiap berlayar, anyone?