Ruangan di Sudut Gedung

image

Pertama kali saya memasuki ruangan itu pada awal tahun 2001, sesi wawancara dengan user, sekitar setengah jam saya menjawab pertanyaan dari 2 orang pewawancara.
Kesempatan kedua saya masuk ke ruangan, saat divisi sdm menyerahkan saya ke user, hampir 3 bulan dari wawancara. Seseorang menyambut saya di ruangan itu, tampaknya beliaulah pemilik ruangan, segera saya merasakan wibawa beliau, kelak dari bapak ini saya banyak menyerap ilmu, walaupun kadang beliau tidak menyadarinya. Pemilik ruangan itu mengenalkan saya ke seluruh stafnya, dan juga staf divisi sebelah, lalu beliau mengantar saya menemui pimpinan puncak.
Waktu berlalu, saya ditempatkan bersama staf yang lain di ruangan besar, hanya sesekali saja saya masuk ke ruangan itu.
Pertengahan tahun 2007 saya mendapatkan tugas di kota lain hingga pertengahan tahun 2011, kemudian ditugaskan di unit usaha lain, sebelum akhirnya pada tahun 2012 saya kembali ke ruangan besar itu.
Kali ini saya ditempatkan di ruangan di sudut gedung, ruangan yang dulu hanya sesekali saja saya masuki. Berat beban terasa saat mengetahui tugas baru ini, terbayang betapa besarnya tanggung jawab yang harus saya emban, terlintas pula para pendahulu, pengguna ruangan ini, semua memiliki rekam jejak yang baik.
2 bulan berlalu, dan saya masih berupaya menemukan ritme, datang lebih awal, pulang lebih akhir, serta membawa kerjaan pulang saya lakukan, tinggal tersisa 1 bulan lagi, 1 bulan yang akan menentukan seberapa pantas saya disini..

Penjual Minyak Wangi Itu..

image

Perumpamaan teman duduk (bergaul) yang baik dan teman duduk (bergaul) yang buruk (adalah) seperti pembawa (penjual) minyak wangi dan peniup al-kiir (tempat menempa besi), maka penjual minyak wangi bisa jadi dia memberimu minyak wangi, atau kamu membeli (minyak wangi) darinya, atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang harum darinya. Sedangkan peniup al-kiir (tempat menempa besi) bisa jadi (apinya) akan membakar pakaianmu atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang tidak sedap darinya. HSR al-Bukhari (no. 5214) dan Muslim (no. 2628) – sumber http://www.muslim.or.id
Rutinitas hari kerja akan dimulai, saat seseorang lewat depan rumah. Bajunya menunjukkan jika beliau akan menunaikan sholat shubuh berjama’ah. Tanpa membuang waktu segera saya mengikuti langkahnya, sebagai orang baru di komplek ini saya belum mengetahui lokasi masjid terdekat, dengan mengkutinya saya berharap beliau akan menuntun saya ke masjid. Itu perjumpaan pertama saya dengan beliau, walaupun tampaknya beliau tidak menyadari jika saya mengikutinya.
Kami baru berkenalan pada kesempatan selanjutnya, seusai sholat isya berjamaah. Beliau sangat ramah, santun, dan wawasannya luas.
Diskusi dengannya terasa sangat menyenangkan, tak terkira banyaknya pencerahan yang saya terima darinya. Saat itu beliau bekerja di salah satu bumn mapan dan masih merintis usaha. Hampir 3 tahun kami berinteraksi bersama, sebagai penuntut ilmu, komuter, dan tetangga. Berburu sholat malam di masjid saat romadhon ataupun berdesak desakan dalam omprengan..
Hingga tibalah masa itu, saya ditugaskan ke kota yang berbeda, sementara beliau memutuskan untuk mengambil program pensiun dini..
Sekarang kami terpisah 8 jam perjalanan udara, beliau merintis jejaring baru, mewujudkan mimpi mendekati masjid yang memiliki keutamaan 100.000 kali sholat..
Kami disini merasa kehilangan wangi itu, smoga kita semua dimudahkan untuk bersua di telaga kelak.. Aamiin

Sebatas Berencana

image

6 juni 2012, menjelang maghrib, gelap mulai menyelimuti..
Adzan berkumandang, sholat jemaah ditegakkan..
Saat tiba tiba terdengar deru angin, sebagai pembuka jalan bagi hujan deras yang datang mengikuti..
Hujan yang turun ternyata membuyarkan hitung mundur grand launching yang akan dimulai. Panggung utama, 3 layar besar, sound system, tata lampu, round table, dan tenda besar, semua tidak bisa dipergunakan, semua yang telah direncakan hampir 6 bulan ini..
1 jam sebelum acara, semua tampak baik baik sana, ketika akhirnya hujan turun dan memaksa perubahan total pada acara..
Manusia hanya mampu merencana, secermat, sedetail, dan sebanyak rencana cadangan yang mampu dibuat, tanpa mampu memastikan bahwa rencana itu akan berjalan persis seperti apa yang diharapkan..
Hanya kepada Alloh azza wa jalla saja kita berserah diri.

I Will Survive

Petualangan menjadi komuter diawali dengan terbitnya surat keputusan untuk bertugas di bisnis pengelolaan gedung Jakarta. Setelah sempat terkatung-katung selama 6 bulan SK itu terbitlah juga. Rumor itu mulai muncul di bulan kedua tahun 2007, dan baru terealisir di bulan kedelapan.
Hari pertama di tempat kerja baru langsung mencatatkan rekor yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, jam menunjukkan pukul 9:40, berarti saya terlambat hampir 2 jam. Namun seiring perjalan waktu, akhirnya saya menyadari bahwa keterlambatan menjadi hal yang biasa bagi komuter (tanpa bermaksud membela diri he he), mulai dari 30 menit, hingga lebih dari 2 jam pernah saya alami. Akibat rekor buruk ini, nama saya selalu terpampang di daftar teratas akumulasi keterlambatan, dan pernah mendapatkan complain langsung dari orang nomor 2 di perusahaan ╮(“╯_╰)╭
Romadhon 1428 menjadi pengalaman pertama saya menjalani puasa sebagai komuter, melaksanakan sholat maghrib di masjid jami + takjil kemudian melanjutkan perjalanan, transit ganti angkot, mampir di masjid lain untuk sholat isya sebelum akhirnya sampe rumah sekitar jam 20. 5 tahun romadhon saya lalui dengan beraneka moda tranportasi.
Menjadi komuter adalah salah satu fase tersulit dalam perjalanan hidup saya. Begitu banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Perjalanan ke kantor yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu 10 menit melonjak hingga 12x lipat, hampir 2 jam sekali jalan, itupun masih dengan catatan perjalanan lancar, tidak ada macet, kerusakan sinyal, ataupun kereta mogok. Berdiri sepanjang perjalanan dalam kereta yang penuh sesak, terkadang hanya dengan satu kaki karena begitu terbatasnya ruangan yang tersedia. Mandi sauna gratis dalam kereta ekonomi, tanpa perlu berpegang tangan saking sesaknya gerbong. Stuck dalam kereta hingga 2 jam karena kerusakan sinyal, kecelakaan kereta ataupun ataper (sebutan bagi penumpang gelap yang berada di atap kereta) yang tersengat listrik. Terjebak dalam antrian yang mengular menantikan busway, ataupun berhenti total di jagorawi.
Komuter jelas telah membentuk saya menjadi seorang yang lebih tangguh, jam sibuk pergi & pulang kantor sejauh 50 km telah saya lalui he he.., tak semua karyawan mendapatkan kesempatan untuk merasakan ini. Salah satu posisi yang dahulu saya anggap paling mengerikan di tempat saya bekerja adalah ditugaskan di jakarta, dan Alhamdulillah hal itu sudah saya lalui.
Saat ini kembali rumor melanda, ketidakpastian kembali menyeruak saat pertanyaan serupa kembali dilontarkan oleh manajemen, “Bersediakah Anda ditempatkan di…?” dan jawaban saya pun tetap sama. 3 bulan berlalu dan belum ada apapun yang terjadi, dan jika memang itu harus saya lakukan, sebagai karyawan saya akan senang hati menerima tantangan tersebut. Bekerja di tempat yang baru, suasana baru, dengan atasan ekspatriat yang sudah terkenal akan etos kerjanya yang luar biasa. Kesulitan pasti ada, namun seperti kisah terdahulu pasti ada jalan untuk melalui semua itu. I will survive.. InsyaAlloh.

Disana Hatiku Terpaut

9 jam sudah saya meninggalkan kota ini, 4 hari kunjungan yang sungguh meninggalkan berjuta kesan..
Masjid yang selama ini hanya dapat saya impikan akhirnya benar-benar nyata dihadapan. Suasana yang tak kan pernah saya lupakan, dini hari 4 Maret 2012 akan selalu terpatri dalam ingatan.
Terbaring kini saya di sudut hotel kota yang berbeda, dalam isakan tangis, meredam kerinduan tak terkira terhadap kota itu, berharap bisa segera berjumpa kembali..