Ngapain sih dibawa ke kabin

Dec 18, ’10 9:35 PM

Entah mengapa belakangan ini penumpang pesawat semakin enggan meletakkan barang bawaannya di bagasi. Mungkin karena seringnya kehilangan, tertukar, lamanya waktu bongkar muat, atau bahkan tidak tahu ada fasilitas bagasi.
Biasanya penumpang hanya membawa tas jinjing kecil ataupun tas ransel yang berisi barang penting yang riskan jika diletakkan di bagasi, terkadang sekardus buah tangan pun ikut ke dalam kabin. Namun kini tanpa mempedulikan kapasitas barang yang dibawa, penumpang seolah-olah berlomba mengajak barang bawaannya masuk kabin.
Seperti penumpang satu ini, ia membawa seluruh barangnya ke kabin, koper troli, tas tangan, tas laptop, tas sedang, dan kardus printer, aliran penumpang mendadak macet saat wanita itu memaksa melewati lorong kabin, belum lagi saat ia menaiki kursi untuk memasukkan kardusnya ke tempat barang..
Lain lagi dengan penumpang ini, walaupun ia hanya mengajak satu bawaannya ke kabin, tapi ukurannya yang luar biasa membuat awak kabin kesulitan memasukkannya ke tempat barang, hingga akhirnya diambil keputusan untuk menempatkan ransel super besar tersebut di ruang awak kabin..

delay

Dec 15, ’10 11:56 PM

Delay atau ditunda.. Mundurnya kegiatan dari jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya. Delay sepertinya telah menjadi keharusan dalam semua penyusunan jadwal keberangkatan sarana transportasi di negeri ini, bahkan moda transportasi yang banyak dipilih karena alasan akurasi waktunya lebih bisa diandalkan.. Keterlambatan pemberangkatan pesawat adalah suatu yang lazim, bahkan untuk penerbangan pertama di pagi hari pun tak luput dari fenomena ini, dan biasanya semakin siang jadwal penerbangan yang dipilih maka tingkat penundaan akan semakin lama.. Tidak jelas alasan penundaan, umumnya yang diumumkan secara resmi adalah akibat kendala operasional. Penundaan yang timbul hampir di setiap jadwal penerbangan menimbulkan pertanyaan tersendiri, apakah jadwal asli adalah jadwal setelah penundaan, sementara jadwal yang tertulis di tiket adalah jadwal yang sudah memperhitungkan toleransi keterlambatan penumpang..
Banyaknya keterlambatan yang terjadi membuat bandara tidak mampu lagi menampung penumpang yang menunggu keberangkatan, sementara penumpang baru sudah berdatangan, penumpang lama yang mengalami keterlambatan belum juga berangkat. Akibatnya pemandangan sepanjang koridor tak ubahnya penampungan pengungsi bencana alam. Penumpang yang lelah menunggu, memilih duduk di lantai, lengkap dengan segala macam barang bawaan.
Tak ada batasan pasti seberapa lama delay diperbolehkan, seorang teman pernah mengalami delay 6 jam, dan itu terjadi tak cuma sekali..
Biasanya tanda-tanda akan terjadinya delay bisa diketahui dari adanya tumpukan kotak di dekat counter. Waspadalah jika kotaknya besar, kotak besar berisi nasi beserta lauknya, yang berarti akan terjadi keterlambatan lebih dari 2 jam, sementara kotak kecil berisi snack, keterlambatan sekitar 30 menit saja.
O ya tulisan ini dibuat disaat menunggu pemberangkatan akibat delay.. Alhamdulillah tidak terlihat tumpukan kotak di sekitar sini 🙂

puasa di ibukota

Aug 28, ’10 5:36 AM

Tak terasa 15 hari puasa terlampaui sudah. Puasa ke-4 di jakarta, berarti 3 tahun sudah aku berada disini. Puasa pertama dijalani pada bulan pertama di jakarta. Shock akibat ritme hidup yang berubah drastis sedikit teredusir dengan adanya puasa. Saat itu jam 8 baru tiba di rumah. Buka puasa selalu dilakukan di masjid jami, setelah sebelumnya mampir di tukang gorengan untuk membeli takjil. Melanjutkan perjalanan dengan angkot, isya dilakukan di masjid sekitar laladon. Puasa kedua sudah mendapatkan rumah yang tidak terlalu jauh dari terminal, sehingga buka puasa dapat dilakukan di rumah dengan syarat sebelum jam pulang sudah antri di depan mesin absen.
Puasa ketiga mulai merasakan buka puasa di kereta, jadwal kedatangan yang hampir selalu dilanggar menyulitkan buka di rumah.
Puasa keempat mulai mencoba omprengan, kapasitas penumpang yang lebih sedikit membuat waktu ngetem lebih singkat, sehingga dalam kondisi normal pukul 5:30 tiba di rumah. Namun tetap dengan syarat sebelum jam pulang sudah ngantri di depan mesin absen.

kembali ke uki

May 9, ’10 6:33 AM

Sore itu seorang rekan memberitakan sebuah kabar duka. Kereta anjlok di manggarai… Hhmmm ada-ada saja ulah kereta ini, pernah sekali waktu dia anjlok tepat di depan depo dan menghalangi seluruh rangkaian yang ada di depo, praktis seluruh keberangkatan hari itu dibatalkan.
Now what..
Informasi itu hadir tepat sebelum jam pulang, sehingga memberiku kesempatan memikirkan rute pulang. Sebelumnya kusempatkan mengintip tweet dari infoka & krlmania, ternyata sudah ada update, anjloknya kereta kali ini menyebabkan tertutupnya sepur 1 – 6 manggarai, krl lumpuh. Bahkan kereta malam pun ikut terganggu.
Kuputuskan naik omprengan di uki, lokasi yang selalu kuhampiri sebelum akhirnya kutinggalkan karena kebijakan dishub menutup akses bis akap. Akses bis ditutup tapi omprengan dibiarkan bermunculan, ck ckck…
Kucegat 46 menuju uki, just like old time, rutinitas selama 2 tahun, tak terikat jadwal, tak ada anjlok, namun selalu diintai kemacetan.
Suasana uki memang menjadi agak lenggang, kolong tol yang selalu penuh oleh pedagang kini sepi.
Tiba di jalur pemberangkatan, tak nampak antrian omprengan, yang ada hanyalah calon penumpang yang bergerombol, berbaur bersama calo yang sibuk mengatur omprengan.
Uki tetap menjadi tempat transit yang menyenangkan, langsung tembus tol jagorawi untuk kemudian muncul di pintu tol bogor. Sayang kehadiran bis ac yang nyaman kini digantikan oleh omprengan, yang dengan seenaknya menakkan penumpang diatas kapasitasnya. Tak ada jaminan omprengan tersebut laik jalan.
Akhirnya kunaiki l300 tua, tanpa ac, tak ada pilihan, tak ada alternatif. Hanya menaiki yang ada, bagaimana secepatnya sampai di bogor…