Pertempuran yang tidak mungkin dimenangkan

Pertempuran yang tidak mungkin dimenangkan

Memasukinya, mengetahui sudah ada pemenang yang telah ditentukan sebelum pertempuran dimulai

Menyerah mundur bukan pilihan, upaya terbaik, best effort tetap diberikan, hasil bukan urusan kami

Aktualisasi diri lebih utama, usaha menjadi kewajiban, memenangkannya tak perlu dipikirkan

Bukankah semua sudah dituliskan jauh sebelum makhluk diciptakan

Bukankan walaupun seluruh makhluk bersekutu namun jika tidak tertulis maka tidak akan pernah terjadi

Sekuat tenaga seluruh makhluk menolak namun jika sudah ditulis maka akan terjadi

Maka sudah selayaknya upaya terbaik tetap diupayakan tanpa memikirkan apa hasilnya nanti, kewajiban kami hanya berusaha

Bukan untuk menjadi pemenang, namun untuk mengisi hari hari di dunia dengan upaya terbaik, hingga saatnya nanti maut menjumpai kami

Kembali

Parkiran masjid saat itu tampak penuh, luber bahkan hingga 200 meter di sepanjang pinggiran jalan utama. Tidak ada agenda kajian hari itu, belum waktunya sholat fardhu, dan bukan pula hari raya. Seluruh jama’ah yang hadir hendak melaksanakan sholat jenazah.

Setelah sholat usai, iring-iringan kendaraan yang mengantarkan ke tempat pemakaman tak juga berkurang. Ambulan sudah berada di gerbang perumahan saat kendaraan terakhir baru beranjak keluar pelataran parkir masjid. Hampir 1 km konvoy kendaraan pengantar.

Kepergian beliau sungguh mengagetkan, kami mendengar kabar beliau dirawat di rumah sakit 2 hari yang lalu. Beliau meninggalkan 6 orang anak, yang terkecil baru berusia 2 bulan. Semoga beliau diberikan tempat terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.

Kematian pasti datang, sudah semuanya mengetahuinya. Namun saat maut itu benar benar datang, meninggalkan kita yang masih memiliki sisa waktu tergagap menyikapinya, terkaget sesaat, untuk kemudian kembali terlena dalam rutinitas kesibukan dunia.

Mudik

Kembali lagi mudik. Menempuh jarak hampir 1000 kilometer. Membelah pulau Jawa.
Dari ujung barat ke bagian timur. Menyusuri jalur pantai utara (pantura) hingga Semarang, kemudian turun ke jalur tengah melalui Salatiga, Ngawi, Mojokerto hingga sampai di kota (yang dahulu) dingin ini. Jalur ini merupakan jalur yang belakangan selalu dipilih ayah mertua saat beliau masih aktif.
Dua hari kami habiskan di perjalanan. Perjalanan hanya dilakukan pada siang hari. Menjelang malam kami akan beristirahat, untuk melanjutkan perjalanan keesokan hari. Biasanya kami sudah mencapai pekalongan saat malam tiba.
Perlengkapan navigasi mudik tahun ini terbilang lengkap. Terdapat global position satellite (GPS) keluaran Garmin, yang petanya sudah saya update dengan peta terkini dari navigasi[dot]net (terimakasih admin dan user yang selalu mengupdate petanya). Kami juga melengkapi diri dengan media sosial waze yang sangat membantu karena menampilan informasi di jalur yang akan kami lewati, mulai dari situasi darurat seperti hujan, kemacetan, atau kecelakaan, hingga perkiraan kecepatan kendaraan yang melalui ruas jalan tertentu secara real time, asiknya lagi fasilitas ini bisa saya nikmati tanpa biaya, cukup menginstal aplikasi waze di gadget. Informasi real time lain yang juga bermanfaat saya dapatkan dari twitter, dengan mengikuti akun @RadioElshinta @PantauMudik ataupun @TMCPoldaMetro.
Seperti biasanya, kemacetan selalu setia menemani. Tahun ini kami mengalaminya sepanjang jalur klari (sengaja kami keluar dari gerbang tol Klari/Karawang timur untuk menghindari dialihkan ke Sadang) hingga Ciasem. Sementara di hari kedua antara Kendal hingga Semarang.