Anak Kost

Tinggal terpisah dari orang tua. Berbeda kota. Bertemu hanya sesekali.
Sendirian mengurus diri. Memenuhi kebutuhan. Memenuhi tuntutan.
Tak ada tempat mengadu. Hanya telpon pemuas kerinduan. Air mata senantiasa mengalir.
Pandangannya terkadang kosong. Menerawang jauh. Membandingkan dirinya dengan teman temannya.
Usianya masih terlalu muda. Usia yang sangat membutuhkan bunda dan ayah disisinya. 5 tahun usianya, anak kost termuda yang saya kenal.

Advertisements

Bis

Kursi paling depan. Sisi paling kanan. Tepat belakang supir. Posisi favorit saat saat mudik dulu.
Pandangan luas melalui kaca depan. Ikut mengintip saat menikung. Mencari celah untuk masuk.
Mencuri start saat jalan turun. Gas maksimal saat menanjak. Mengambil truk yang terengah-engah.
Terjaga sepanjang jalan. Menahan kantuk. Memperhatikan aksinya. Supir bis malam, si tokoh idola

Muram

Tak seperti biasanya sholat dhuhur di masjid ini tampak sepi. Hanya ada 2 shaft. Itu pun tak penuh.
Aktivitas di komplek perkantoran dimana masjid ini berada pun tampak serupa. Parkiran yang biasanya padat kini lengang. Tak tampak lagi antrian mobil meninggalkan area perkantoran saat jam istirahat tiba.
Ternyata sebagian penghuni perkantoran ini telah dipindahkan. Kinerja perusahaan yang belum juga membaik telah memaksa manajemen melakukan langkah drastis untuk mengurangi biaya. Gedung yang dulu ramai kini sunyi.
Taman depan lobi utama yang senantiasa resik kini tak terawat, rerumputan tumbuh tak beraturan. Tembok yang kusam menambah muram suasana. Semuram kinerja yang tercatat..

Tersandera

Mengorbankan suatu hal untuk mendapatkan hal yang lain. Semakin banyak yang dikorbankan semakin banyak yang didapat. Mendapatkan semuanya tanpa ada yang berkurang merupakan kondisi yang hampir tak dapat dicapai. Doktrin inilah yang selalu ditanamkan oleh pengajar ilmu ekonomi.
Mendapatkan manfaat dari pengurangan manfaat yang lain. Mendapatkan benefit, menukarnya dengan waktu yang tersisa. Dua sisi yang seolah berseberangan. Kata yang tersedia adalah atau, bukan dan.
Semakin banyak benefit yang diterima. Semakin tinggi manfaat yang diperoleh. Semakin berkurang waktu yang ada.
Dimanakah titik optimal itu. Waktu yang sudah sedikit semakin sedikit. Hari hari dilalui mengejar benefit. Benefit yang menuntut beragam konsekwensi.
Hari berganti minggu. Benefit yang menyenangkan kini semakin menuntut. Mengambil porsi yang bukan peruntukannya. Waktu yang sedikit semakin sedikit.
Mengais-ngais waktu yang tersisa. Terkadang masih juga dirongrongnya. Tersandera..