Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya seorang hamba yang telah Aku anugerahi kesehatan badan, Aku telah luaskan penghidupannya, telah lewat padanya lima tahun, (namun) dia tidak mendatangiKu (yakni: melakikan ibadah haji), dia benar-benar dicegah (dari kebaikan). Referensi : https://almanhaj.or.id/4139-tidak-berhaji-padahal-mampu-termasuk-dosa-besar.html
Selain sholat jenazah dan pemakaman, acara lain yang selalu diusahakan untuk hadir adalah akad nikah. Jika sholat jenazah dan pemakaman menawarkan keutamaan masing masing sebesar satu gunung serta selalu menjadikan kita waspada akan jemputan yang bisa segera hadir, akad nikah selalu memberikan kilas balik peristiwa prosesi yang sudah saya alami. Satu acara dimana saya menjadi tokoh utama, penganten, satu acara saya mengamati wali nikah (ayah saya) menikahkan adek, dan satu lagi saat saya menjadi wali nikah.
Selain itu ada nasihat pernikahan, yang jika disampaikan oleh ahli yang kompeten akan sangat berpotensi menggetarkan hati. Pemahaman akan dalil sesuai pemahaman sahabat, to the point, tanpa gimmick senda gurau. Seperti halnya hari ini, maasyaa Allah, untaian nasihat yang selalu menjadi penyegar, pengingat tujuan kita semua menikah sembari menunggu waktu dijemput.
Beliau meyampaikan akad nikah adalah perjanjian yang berat مثقاغليظا. Hanya ada 3 peristiwa yang menggunakan frase ini dalam Al Qur’an, yaitu akad nikah, perjanjian dengan para nabi dan rosul, dan perjanjian dengan bani israil. Perjanjian yang harus dipenuhi
Visi menikah adalah memenuhi komitmen agar dapat dipertemukan kembali di surga kelak. Fokus pada kewajiban. Ketenangan, rasa cinta, dan rasa sayang akan hadir dengan sendirinya. Tidak ada manusia yang sempurna, bersukur atas apa yang telah الله anugrahkan.
Rumah tangga adalah bahtera besar. Keselamatannya sangat ditentukan oleh kepiawaian nahkodanya. Kembalikan pada dalil. Jangan lupa selalu berupaya mendapatkan ridho orang tua karena ridho الله ada pada ridho orang tua.
Semoga kita semua dapat dipertemukan kembali dengan pasangan kita di surga kelak
Hari pertama ngantor di 2023, tiba tiba dipanggil pas mau buka pagar. Dia berlari dan membawa selembar kertas, seperti biasanya. Ini buat Ayah, katanya. Lembaran kertas berisi tulisan Ayah, simbol love dan gambar mobil. So sweet. Maasyaa Allah
Waktu berlari. Sudah 0 kecil aja, bentar lagi 0 besar dan SD. 2022 berlalu sudah
Ngapain aja kita 2022 ini. Menekatkan diri daftar pendidikan doktor ilmu akuntansi. Menyelesaikan semester 1 dan alhamdulillah bisa menutup salah satu syarat kelulusan, partisipasi dalam internasional conference dan proceeding terindeks scopus.
Masih kurang 2 jurnal scopus dan disertasi. Semua diupayakan tercapai, best effort sesuai jadwal, insyaa Allah. Tentunya dengan tetap memprioritaskan bekal hari akhir diatas segala galanya. Semoga diberikan kemudahan dan istiqomah. Aamiin
Mendapatkan sesuatu yang diluar dugaan tentunya selalu membuat kita senang. Alhamdulillah pagi ini saya merasakan kegembiran yang luar biasa, maasyaa Allah, karena mendapatkan sesuatu yang tidak disangka sangka.
Subuh di Masjid yang baru pertama kali saya singgahi. Begitu masuk langsung didapat pemandangan yang familiar. Jamaah melaksanakan sholat sunnah mepet ke tembok depan, tidak menyebar di penjuru masjid, yang terdang menyulitkan jamaah yang datang belakangan untuk melakukan sholat sunnah. Jeda waktu ke iqomah yang lumayan lama, dan penampakan para jamaah yang biasa saya temui di kajian.
Sekilas sempat terlihat meja yang biasanya digunakan saat kajian disiapkan. Ba’da sholat diumumkan bahwa ahad ini ada kajian dari USB, maasyaa Allah. Beliau, yang jika mengisi di tempat kami, masjid akan dipenuhi oleh jemaah yang berdatangan dari penjuru kota. Jika kita terlambat datang, dipastikan tidak akan mendapat tempat di dalam masjid. Dan subuh ini saya mendapatkan beliau akan mengisi kajian, tanpa diduga, alhamdulillah.
Kenapa lanjut lagi, mau nyari apaan, buat apa, dan sejumlah pertanyaan senada lainnya. Sebenernya jawaban mendasar dari pertanyaan pertanyaan tersebut cukup sederhana, untuk menyenangkan orang tua. Iya menyenangkan Ibu
Sebelum wisuda s2 kemaren, saya mengajak Ibu foto bersama di studio. Respon beliau diluar dugaan, dengan antusias langsung mengiyakan. Sepanjang sesi foto berseri-seri, dan setelah hasil foto jadi, beliau membaginya ke grup keluarga dengan caption ibu dan anak. Terlihat beliau begitu bergembira, ada kesenangan terbesit di hati saat melihat beliau begitu begembira.
Faktor pendorong utama melanjutkan studi adalah menyenangkan Ibu, yang termasuk dalam berbakti pada orang tua. Kita lihat perjalanan ini akan berlanjut sampai kemana. Semoga diberikan kemudahan