sepenggal kisah

Sekitar 01.00
Jelang dipindah ke icu
Penunggu pasien: “Pah, kk udah gak bisa nemenin papah lagi, papah mesti bisa sendiri, sabar, ikhlasin semuanya. Maapin kk ya. Terimakasih untuk semuanya.
Soal yyy nanti kita nikahin kalo memang sudah ada yang cocok.”
Terlihat buliran air mata di pelupuk mata pasien.
“Udah ya Pah, istigfar”
Membelai rambut pasien
“Ucapkan laa ilaaha illaa Alloh”
Telihat gerakan lidah pasien
Perawat berkemas, mendorong ranjang keluar ruang perawatan menuju icu
Penunggu pasien membereskan barang. Memindahkannya ke mobil. Kembali ke ruang perawatan yang telah kosong. Menikmati kesunyian ini.
Ada rasa kehilangan menyergap relung hati.
Meninggalkan ruang perawatan. Menuju ruang tunggu icu untuk menyambut kerabat yang baru tiba. Melakukan obrolan ringan nan singkat untuk kemudian menuju masjid. Beristirahat..
Sekitar 3.30
Seorang kerabat membangunkan penunggu pasien. Perawat di ruang icu membutuhkan penunggu pasien katanya.
Bergegas bangun, penunggu pasien menuju ruang icu, duduk sejenak untuk meneguk air minum di kursi yang tersedia di depan ruang icu.
Masuk ruang icu.
Terlihat dokter dan beberapa perawat sudah mengelilingi pasien.  Resusitasi (alat bantu pernafasan) sudah berada di mulut pasien. Salah seorang sudah menekan nekan dada pasien.
Penunggu pasien mendekati kepala pasien. Melirik indikator jantung. 0
Kembali membisikkan kalimat yang hampir 3 hari ini selalu menenemani. “Ucapkan laa ilaaha illaa Alloh”
Menunggu.
Terlihat indikator jantung kembali bergerak.
Sebentar saja.
Kembali hilang.
Akhirnya dokter berkata jantung pasien telah berhenti. Terdengan isak tangis dari kerabat yang ikut masuk ke ruang icu.
Meninggalkan pasien. Berbicara dengan suster di meja kontrol, menanyakan masalah administrasi. Keluar dari ruang icu.
Bertemu kerabat di ruang tunggu. Melakukan beberapa panggilan telpon dan wa untuk menginformasikan pasien telah tiada. Kemudian menuju masjid, menunggu sholat shubuh.
Air mata tak kuasa dibendung saat melakukan sholat.
Kembali ke ruang icu. Melihat pasien yang telah ditutupi kain. Penunggu pasien menyibaknya. Melihat wajah pasien. Sekitika perasaan gembira menyeruak. Wajah beliau sudah bersih, tidak ada lagi kerutan menahan sakit. Senyum tipis terlihat di sudut bibirnya..

Advertisements

One thought on “sepenggal kisah

  1. Sari 28/03/2015 / 18:10

    Masih terbayang2 wajahnya.. 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s